Cari Blog Ini

Sword Art Online Alicization Turning Chapter 5 - Seal of the Right Eye Part 2

File:Sword Art Online Vol 11 - 001.jpg



Dia telah bersiap jika ada masalah yang akan datang, tapi setelah beberapa hari telah berlalu sejak duel itu, dia tidak mendengar apapun dari Raios dan temannya.
Humbert memberikan ekspresi pandangan membenci ketika berpapasan dengannya di asrama swordsmen-in-training dan di pusat sekolah, tanpa kata yang terlewat satupun. Dia memberitahu Kirito tentang yang terjadi di arena latihan dan memperingatinya untuk berhati-hati, tapi sepertinya pasti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Ini terasa aneh... Aku tidak berpikir mereka adalah orang yang bertipe diam bahkan setelah duelnya seri. Raios bahkan mengatakan sesuatu seperti itu..."
Bersandar pada sofa tua, Eugeo menyandarkan kepalanya di satu sisi dan Kirito, yang sedang duduk di posisi sebaliknnya, mulai berbicara sambil mengangkat cangkir keramik.
"Aku tidak percaya bila ada kesempatan bahwa mereka mengganti kepribadiaan mereka. Tapi seperti yang kita tahu, sangat sulit untuk melakukan perbuatan buruk di asrama swordsmen-in-training."
Dia mengambil teh kohiru tanpa susu dan mendekatkannya ke mulut dan langsung meminumnya.
Itu jam 9:30 P.M., setelah satu minggu berlatih dan akhirnya hari istirahat telah datang. Hari itu adalah dimana mereka dapat tidur pulas di kamar mereka masing-masing di hari itu, segera menyelesaikan latihan sehari-hari mereka, makan dan mandi, tapi di malam ini setiap minggu mereka berbincang tentang berbagai masalah sambil minum teh.
Eugeo mengambil cangkirnya sendiri dan menyeruput teh yang berwarna hitam itu, wajahnya berubah menjadi berkerut. Patnernya yang menemukan teh bubuk hanya tersedia di kerajaan selatan dan langsung segera membuatnya menjadi teh, tapi bagi Eugeo itu sedikit pahit. Dia menuangkan susu dari teko kecil dan mengaduknya dengan sendok teh sementara kembali ke topik yang hendak dia katakan sebelum Kirito mengajukan pertanyaan yang tak terduga.
"Ah benar...sebagai contoh, apa kejahilan yang pernah dilakukan pada saat kecil di Rulid?"
Setelah meminum seteguk teh kohiru yang sudah tidak pahit, yang hanya mempunyai aroma aneh, Eugeo langsung melonggarkan tegangan di bahunya dan menjawab.
"Aku yang selalu diganggu oleh mereka, itu yang sebenarnya. Dengar, apa kau ingat tentang pemimpin regu yang dipanggil Jink yang pernah menantangku duel di saat festival sebelum memulai perjalanan. Dia sedikit menggangguku...Menyembunyikan sepatuku di suatu tempat, menaruh serangga yang mengganggu di makan siangku atau mengejekku ketika bersama Alice."
"Hahaha, sepertinya semua anak kecil selalu nakal di dunia mana saja....Tapi dia tidak memulai untuk mengalahkanmu atau sesuatu. Kan?
"Tentu saja."
Eugeo menjawab dengan mata terbuka.
"Tidak mungkin dia melakukan itu. Dan lagi..."
"—Itu dilarang oleh Taboo Index. «Kecuali diizinkan orang lain, kau tidak boleh mengurangi Life orang lain»....Tapi tunggu, apa tidak masalah jika menyembunyikan sepatumu? Mencuri juga melanggar taboo, kan?"
"Mencuri adalah mengambil sesuatu yang punya orang lain menjadi milikmu. Kata suci di «Stacia Window» yang membuktikan pemiliknya akan mengembalikannya dalam waktu dua puluh empat jam. Karena itu meskipun suatu item dikirim tanpa izin pemiliknya, itu dapat kembali kapan saja setelah satu hari dan itu hanya berlaku jika mengambilnya tanpa izin , bukti dari kepemilikan itu takkan hilang meskipun itu ditinggalkan selain di rumah, jadi itu tidak dapat dicuri... —Jangan bilang bahwa kau telah melupakan hukum dasar seperti ini, benarkan?"
Eugeo langsung melihat wajah Kirito yang disebut «Anak hilang Vector» dan patnernya langsung tertawa malu ketika menggaruk rambutnya.
"Ii-Itu benar, jadi seperti itu. Tentu saja aku tidak lupa tentang itu, kemungkinan... tunggu, huh? Lalu bagaimana dengan itu? Bukankah itu membuat Bercouli melanggar hukum ketika dia mencoba untuk mencuri Blue Rose Sword dari sarang naga putih di cerita legenda itu?"
"Hey, naga bukanlah manusia."
"O-Oh begitu..."
"Kembali ke topik, kejahilan seperti menyembunyikan item bukanlah pelanggaran, tapi meninggalkan itu diluar yang bukan item miliknya akan mulai kehilangan Life mereka setelah beberapa saat, jadi jika itu tidak dikembalikan dan hal itu terjadi, maka itu menjadi «merusak barang orang lain». Berkat itu, sepatuku pasti kembali saat sore hari, tidak peduli apapun yang terjadi, meski begitu... tapi bagaimana ini berhubungan dengan Raios dan temannya akan lakukan?"
Setelah Eugeo membaringkan kepalanya di satu sisi, Kirito yang baru mengedipkan matanya yang sepertinya dia lupa bahwa dia yang memulai pembicaraan, dan berkata.
"It-Itu betul. Erm, akademi ini memiliki banyak sekali peraturan dan itu juga ditambah Taboo Index, kau tahu. Dan bersama itu , ada sebuah peraturan tertulis«Kau tidak boleh memasuki kamar siswa lain atau guru tanpa izin». Dengan kata lain, Raios dan Humbert tidak dapat memasuki kamar ini dan semua barang akan aman bila ditaruh disini. Akan jadi cerita lain bila meninggalkan sesuatu penting tanpa dijaga di tempat umum..."
Dia berhenti sebentar karena suatu alasan, tapi sepertinya Kirito langsung melanjutkan dengan penjelasan.
"...Dan tentu saja, kita belum pernah melakukannya. Baik, Raios dan temannya tidak dapat melakukan apa-apa dengan benda kita, seperti Jink-kun yang menggangu anak tidak berdaya, Eugeo, di desa Rulid."
"Kau tidak perlu berkata tidak berdaya juga. Hmm... Aku mengerti. Aku tidak pernah berpikir seperti itu sampai sekarang, tapi betul tidak mungkin ada cara untuk mengganggu orang lain selain di asrama swordsmen-in-training ini, huh."
"Dan perbuatan mengganggu itu menjadi sebuah aksi tidak menghormati dari tuntutan «Hak Menghukum» jika mereka melewati batas."
Menambahkan itu, Kirito hanya tersenyum.
Hak Menghukum adalah suatu hak yang diberikan kepada elite swordsmen-in-training yang juga tertulis di peraturan akademi yang mengizinkan mereka untuk bersikap di akademi sebagai instruktur. Ada kasus dimana tidak menghormati atau kenekatan dalam melanggar aturan atau kabur dari hukuman, swordsmen-in-training dapat memberikan hukuman mereka sendiri untuk mereka yang melakukan pelanggaran sesuai peraturan. Lalu Kirito, yamg tidak sengaja melanggar aturan, yakni membuat kotor baju seorang head swordsman-in-training sebelumnya, Uolo Levanteinn, dan dia disuruh melakukan first strike duel dengannya sebagai hukumannya masih teringat dipikirannya.
Hak Menghukum yang dimiliki oleh swordsmen-in-training memiliki tujuan untuk mengarahkan novice dan advanced trainees, tapi tidak ada yang berkata bahwa trainees mengeluh terhadap peraturan akademi. Dengan kata lain, seorang swordsman-in-training menjatuhkan hukuman kepada orang lain juga bisa dan itu mungkin alasan kenapa gangguan dari Raios dan Humbert menurun dibanding dengan tahun lalu.
Kirito mengkosongkan cangkirnya, jadi Eugeo menuangkan minuman itu lagi dan patnernya menuangkan susu sebelum mengaduknya. Sepertinya dia masih memikirkan sesuatu sebelum mengaduk the itu dengan jarinya secara terampil, tapi dia mengangguk sebelum berbicara.
"Jika mereka tidak dapat macam-macam dengan barang kita, mereka hanya akan mendatangi kita. Jika seperti itu, cara tercepat dan mudah adalah menantang kita untuk first strike match dan melukai kita dengan tebasan, tapi mereka telah mencobanya denganmu, Eugeo, dan berakhir seri. Cara lainnya, oh benar, jika aku berpikir seperti itu...mereka hanya akan memberikanku uang agar menjauhkanku dari Eugeo, Kurasa."
"Eh..."
Eugeo langsung mengeluarkan suara serak, mencoba untuk menutup mulutnya, tapi sepertinya Kirito tersenyum dan berkata dengan antusias.
"Jangan khawatir, teman. Aku pasti tidak akan meninggalkanmu."
"A-Aku bukan khawatir soal itu! ...Tapi disamping uang, bagaimana jika mereka menaruh roti daging special dari toko Gottlo?"
"Pasti itu jebakan."
Setelah menjawab pertanyaan Eugeo tanyakan dengan ekspresi dalam, dia langsung tertawa keras.
"Hmm, itu hanya lelucon, aku tidak terlalu khawatir terhadap apapun kecuali mereka merusak barang-barang kita atau menghadapi kita secara langsung."
Tapi, ekspresi Kirito menjadi tegang dan bersuara tajam.
"Tapi jika kau pikir lebih jauh lagi, itu tidak akan menjadi aneh bila mereka melakukan apa saja selama tidak melanggar Taboo Index atau peraturan akademi. Mereka tidak memiliki niat sedikitpun untuk menyerahkan posisi mereka sebagai head and second-ranked, pada akhirnya... Eugeo, cobalah berpikir apapun yang telah kita lewatkan."
"Ya, aku mengerti. Bahkan tidak sampai satu bulan untuk pertandingan resmi. Kita harus menjaga tubuh kita agar dapat melawan mereka dengan kondisi terbaik."
"Ya ...Sepertinya, itu mungkin rencana untuk mengkhawatirkan tubuh ita bila terluka, huh. Jadi jangan lupa sikap kita dan stay cool [4]."
Sword Art Online Vol 11 - 049.jpg
Kata aneh yang terucap dari Kirito saat dia mengkosongkan cangkirnya, membuat Eugeo terkejut.
"Apa kau bilang? S... st...?"
Ketika hendak menanyakannya kembali, patnernya hanya melihat sekelilingnya untuk suatu alasan sebelum terbatuk dan berbicara.
"Itu, hm, bagian pertama yang penting dari Aincrad-style. Mungkin seperti itu, jadi kita harus tenang dan melanjutkannya. Itu juga bisa digunakan sebagai perpisahan... mungkin seperti kita akan bertemu lagi, sesuatu seperti itu."
"Heh. Aku mengerti, Aku akan mengingatnya. St... stay cool."
Kata itu juga jarang dia dengar dan menggunakan pengucapan yang jarang didengar seperti tentu saja secret moves, yang baru didengar, tapi mereka merasa sering mendengarnya ketika dia mengatakannya. Lalu dia mengulanginya dengan suara pelan, Kirito menepuk kedua tangannya dengan ekspresi malu karena suatu alasan.
"Sekarang, sebentar lagi bel jam sepuluh segera berbunyi, jadi kita segera tidur. Juga, kemungkinan besok, Eugeo-kun, ada sebuah masalah yang ingin kuselesaikan jadi..."
"Tidak boleh, Kirito. Aku takkan membiarkanmu kabur lagi, apalagi kali ini."
Ketika membereskan perkakas teh dari meja, dia segera mengerutkan dahinya dengan cepat.
Sebenarnya ada rencana di hari libur besok untuk pergi keluar termasuk meningkatkan hubungan mereka—seperti yang sudah diketahui, tempatnya adalah hutan di akademi, meskipun—bersama dengan valet trainees, Tizei dan Ronie. Karena Kirito telah memprediksikan hal itu maka dia mencoba untuk membuat alasan untuk lari seperti sikapnya ketika dia diundang, Eugeo memberitahu dia sambil menghela nafas.
"Kau tahu, sebulan telah berlalu semenjak kita menjadi guru dari Tizei dan Ronie. Kau telah diberi perlakuan baik oleh Solterina-senpai yang kau layani sebagai valet pada saat tahun lalu juga, kan?"
"Di samping dengan waktu latihan pedang, pada saat itu....Itu membuatku mengingatnya lagi. Aku harap dia baik-baik saja.."
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku bermaksud mengatakan bahwa ini giliranmu menjadi senior yang baik. Ingatlah ini mereka berdua akan datang jam sembilan besok pagi, jadi segera bersiap sebelum itu!"
Ketika Eugeo menunjuk lurus padanya, Kirito hanya menjawab dengan suara terpaksa "Ya" dan bangkit dari sofa. Keduanya membawa perkakas teh menuju wastafel di sudut ruang tamu dan Kirito mencucinya sementara mengelapnya setelah itu. Dia pernah menggunakan sumur air di Rulid and Zakkaria, tapi pipa besi yang mengalirkan air bersih dengan memutarnya penyumbatnya adalah hal umum di bangunan di Centoria. Dia berpikir kalau itu adalah benda sacral, seperti «Bel Penunjuk Waktu», pada saat pertama kali melihatnya, tapi itu sebenarnya hanya ditekan menggunakan sacred arts elemen angin dari sumur yang banyak di setiap distrik, mendorong air melewati pipa yang tak terhitung.
Hasilnya, air mengalir dari wastafel itu selalu bersih, tanpa perlu mengkhawatirkan bahwa Lifenya akan berkurang, seperti air mengalir. Sangat beruntung bila anak yang mengambil air di desa Rulid jika pengaturannya juga seperti ini—selesai mencuci ketika berpikir seperti itu, dia menyusun cangkir bersih itu di rak.
Menelan air langsung dari wastafel, Kirito mengelap mulutnya sebelum dia menguap.
"Jadi baiklah, tolong bangunkan aku besok jam delapan. Selamat malam, Eugeo."
"Jam delapan itu sudah terlalu telat, jam setengah tujuh! Selamat malam, Kirito."
Menjawab dengan langsung, dia langsung memikirkan sesuatu yang muncul di pikirannya.
"...Stay cool."
Saat memikirkan itu, patnernya yang menuju kamarnya sendiri mengangkat bahunya dan berbicara dengan senyum masam.
"Itu mungkin bisa digunakan sebagai perpisahan, tapi itu bukan sesuatu yang kau harus pikirkan setiap malam sebelum tidur. Gunakan jika kau hanya memiliki itu sebagai pilihan terakhir."
"Hmm, itu rumit, bukan. Baiklah...jadi, sampai jumpa besok."
"Ya, sampai jumpa besok."
Perlahan melambaikan tangan kanannya, Kirito memasuki kamarnya di utara, sebelum Eugeo mematikan lampu dan membuka pintu dari arah yang lain. Kamar tidur itu memiliki luas hampir setengah dari sepuluh kamar di asrama novice trainee dan itu selalu dibersihkan oleh valetnya, Tizei, jadi tidak terlihat setitikpun debu. Mengganti pakaian rumahnya dengan piyama, dia membaringkan tubuhnya di kasur.
Bersamaan dengan suara berdecit saat dia berbaring, tanpa sadar, dia dapat mendengar satu bagian dari percakapan sebelumnya di telinganya.
— Tapi jika kau pikir lebih jauh lagi, itu tidak akan menjadi aneh bila mereka melakukan apa saja selama tidak melanggar Taboo Index atau peraturan akademi.
Perkataan dari Kirito untuk berhati-hati terhadap Raios dan Humbert. Sebelumnya dia mengangguk, tapi itu masih sulit untuk dipikirkan oleh Eugeo untuk langsung dipahami.
Selama proses untuk datang ke sini dari sejak dia kecil, sebenarnya telah berulang kali ketika Eugeo mencari pelanggar aturan, baik itu peraturan desa Rulid, peraturan Zakkaria Guard Squadron atau peraturan Akademi Master Pedang. Tetapi, dia berpikir peraturan yang paling menantang untuk dilanggar di Dunia Manusia, Taboo Index, hanya nol—tidak, hanya sekali.
Sekali itu hanya terjadi delapan tahun lalu, ketika Integrity Knight dari Gereja Axiom datang di desa untuk mengambil Alice. Eugeo berpikir untuk menebas Knight dengan Dragon Bone Axe yang dia pegang dengan kedua tangannya, tapi nyatanya, dia tidak mengambil langkah. Sampai sekarang, jika dia mengingat itu, ada sesuatu yang sakit di mata kanannya untuk suatu alasan.
Tentu saja, dia tidak memiliki bagian dari bantahan untuk Integrity Knights atau gereja sekarang. Knight itu mengambil Alice sesuai dengan hukum yang berlaku, jadi dia harus mendapat izin untuk melewati pintu gereja dengan baik dan bertemu kembali dengan Alice. Itu adalah alasan Eugeo meninggalkan desa dan melalui berbagai rintangan untuk menjadi elite swordsman-in-training di akademi.
Tetapi seperti yang Kirito katakan, jika Raios dan Humbert berpikir " apa saja selama tidak melanggar Taboo Index atau peraturan akademi"...pada akhirnya, apakah mereka akan melanggar hukum yang pasti yang menstabilkan dunia dari awal oleh Gereja Axiom? Apakah mereka merasa Taboo Index sebagai rintangan di pikiran mereka...?
Meskipun itu adalah Raios dan patnernya, itu tidak mungkin terjadi. Bahkan melanggar Taboo Index tidak dapat dimaafkan, itu adalah keyakinan tak terbantahkan yang bahkan raja harus mematuhinya, itu adalah hukum yang pasti.
Eugeo melihat langit-langit yang berwarna biru muda karena diterangi dengan cahaya malam. Jika pikiran itu diperbolehkan, dia bertanya apa yang dia ingin lindungi dan kenapa dia ingin melindunginya, hanya melihat tanpa mengambil langkah ketika Integrity Knight mengambil Alice, dan hanya memotong Gigas Cedar selama enam tahun sesuai dengan hukum.
Pupil matanya langsung sakit dengan sensasi bergetar. Eugeo berusaha menahan rasa sakit itu dengan menutup matanya, membuang pikirannya menjauh dan membaringkan tubuhnya dan segera tertidur.
Pagar tinggi yang mengelilingi Akademi Master Pedang dan sebuah hutan yang dibuat hingga menutupi tiga puluh persen dari itu. Dengan pohon yang besar, juga dengan lumut yang berwarna keemasan tumbuh disekitarnya, dan sinar matahari yang terlihat dari celah pohon, suasana hijau itu mengingatkannya hutan di dekat rumahnya, tapi Centoria Pusat jauh di selatan Rulid, ada berbagai macam hewan yang hidup di sini. Beberapa bahkan belum pernah dia lihat di daerah utara, seperti rubah kecil dan ular yang ramping dngan motif turquoise [5], yang sedang berjemur di matahari di mana saja dan dia melihat sekeliling meskipun sudah satu tahun sejak dia datang.
"Eugeo-senpai, apa kau mendengarku?"
Mendengar suara dari sampingnya, Eugeo segera membalikkan kepalanya dengan bingung.
"Maaf, maaf, aku mendengarkan....Jadi ada apa?"
"Kau tidak mendengar, kan!"
Gadis yang sedang menyibak rambutnya, warnanya seperti kulit apel, yang sedang memprotes adalah orang yang melayani Eugeo sebagai valet trainee, Tizei Shtolienen. Menghindari tatapan matanya yang memiliki warna yang sama dengan rambutnya, dia mencoba menghindarinya sambil berkata.
"Em-Emm, hutannya sangat indah aku hanya merasa...Ada hewan langka di sekitarnya juga..."
"Langka?"
Tizei mengetahui elakkan Eugeo dan mengangkat bahunya menunjukkan tidak tertarik.
"Eeh, di sini hanya ada rubah kintobi, kan? Ada lebih banyak mereka di pohon yang tumbuh di sekitar distrik."
"Heh...Itu mengingatkanku, kau lahir di pusat, huh, Tizei. Apa rumahmu dekat?"
"Rumahku di distrik kedelapan, jadi sedikit jauh dari distrik kelima dimana akademi itu berada."
"Aku mengerti...nn, eh?"
Eugeo langsung melihat ke arah Tizei yang ada di sampingnya. Bahkan seragam novice trainee yang pernah dia pakai dan dipikir sedikit tidak berwarna padanya tahun lalu terlihat cocok jika dipakai perempuan. Itu sudah sewajarnya, jika Tizei bukan siswa dari akademi yang sama, dia bukanlah seseorang yang Eugeo harapkan untuk dapat berbicara, karena dia anak petani.
"Hmm, Tizei kau lahir sebagai bangsawan, kan? Aku berpikir bahwa aku pernah mendengar bahwa rumah bangsawan terkumpul di distrik ketiga dan keempat, seperti itu..."
Ketika dia bertanya dengan rendah hati, Tizei menunduk karena dia malu dan segera mengangguk sebelum menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ayahku adalah bangsawan kelas enam setidaknya...tapi menjadi bangsawan kelas rendah juga bagus. Tinggal di rumah yang dekat dengan Administrasi Kerajaan hanyalah untuk bangsawan kelas empat atau di atasnya dan beberapa bangswan kelas lima dan enam yang tertentu. Ayahku memiliki kebiasaan berkata, 'Ini jauh lebih menyenangkan menjadi orang biasa, dapat berbicara dengan mereka tanpa takut terhadap bangsawan kelas atas dengan Hak Untuk Menghukum'... ah, Aku minta maaf, aku hanya..."
Menyadari bahwa dia berbicara materi yang sulit dimengerti oleh Eugeo, yang hidup sebagai orang biasa, Tizei hanya menghela nafas sambil berjalan.
"Jangan khawatir dengan hal itu. Tentang hal itu...tentang Hak Menghukum, apakah semua bangsawan memilikinya?"
Ketika mengingat kembali isi dari Hukum Dasar Kerajaan yang dia pelajari satu tahun yang lalu, Eugeo bertanya dan dia hanya berkata dengan suara keras "Tentu saja tidak!" sebagai balasannya.
"Hak Menghukum hanya diberikan untuk bangsawan kelas empat dan di atasnya, dengan bangsawan kelas lima dan dibawahnya sebagai orang yang menerima hukuman dari bangsawan kelas atas. Ayahku hanya bekerja sebagai sekertaris di Administrasi, tapi sepertinya banyak bangsawan kelas lima dan enam yang bekerja di Istana Kerajaan atau kantor umum untuk melayani bangsawan kelas atas....Sepertinya, itu adalah masalah antara orang dewasa, jadi itu kebanyakan bukan hukuman fisik, tapi mengurangi gaji dan lainnya, sepertinya."
"A-aku mengerti...Itu sangat rumit juga, huh, dunia bangsawan..."
Melihat ke arah Eugeo yang matanya terbuka, novice trainee yang berambut merah itu berbicara terus dengan sedikit warna merah di pipinya karena suatu alasan.
"Se-seperti yang aku bilang...seseorang sepertiku yang lahir sebagai bangsawan kelas enam hanya terlihat dari namanya, cara hidup kita hampir tidak jauh berbeda dengan orang biasa.
"H-Hmm..."
Dengan mengeluarkan balasan yang tidak jelas antara setuju atau tidak, Eugeo merenungkan kembali struktur kerajaan sekali lagi.
«Hukum Dasar Kerajaan» yang dibuat oleh Administrasi Kerajaan yang distabilkan dalam sistem sosial oleh Norlangarth North Empire. Sepertinya, setiap kriminal dan hukuman untuk mereka di dasari oleh suatu hukum yang pasti, Taboo Index, sementara Hukum Dasar Kerajaan dibuat untuk perjanjian untuk membagi menjadi sistem kelas. Dengan kata lain yang menjadi bangsawan dan orang biasa.
Ketika dia masih menjadi novice trainee, ada suatu ketika dimana seorang guru mengajar tentang Hukum (Meskipun kelas lainnya hanyalah «Sacred Arts» dan «Sejarah») ada seorang siswa yang berambut hitam menanyakan suatu pertanyaan. Guru, kenapa ada bangsawan dan orang biasa di Kerajaan ini, dia tanya.
Guru itu yang hanyalah bangsawan kelas rendah kehilangan kata-katanya untuk sesaat, sebelum dia menjawab dengan suara lemah.
—Menurut ramalan yang berasal dari Gereja Axiom sejak dahulu kala, tentara kegelapan akan menginvasi dengan kekuatan dari empat jalan di Gunung tinggi di Ujung yakni... «North Cave», «West Gorge», «South Corridor» dan «East Gate». Untuk membasmi demi-humans, semua yang memiliki sacred tasks imperial knights atau imperial guards dari empat kerajaan akan bertarung sebagai «Tentara Dunia Manusia». Untuk menjadi kepala dari Tentara Dunia Manusia yakni sebagai komandannya ketika waktunya tiba, bangsawan meningkatkan ilmu pedang mereka, belajar sacred arts dan melatih fisik dan mental mereka.
Mendengar itu, Eugeo jujur merasa kagum, meskipun merasakan perasaan tidak enak.
Dua tahun lalu, bersama Kirito, Eugeo melawan grup goblin yang menginvansi dari Dark Territory yang hendak melewati «North Cave» yang guru tadi sebutkan. Sayangnya, dia langsung tidak sadar dari serangan pemimpin goblin di tengah pertarungan, tapi kekuatan dan penampilan menakutkan dari demi-humans, serta suaranya terus membekas di ingatannya. Setelah berdiskusi dengan Kirito, mereka memilih untuk tidak membicarakan pertarungan itu di akademi, tapi jika pertarungan itu diceritakan dengan lengkap, itu mungkin membuat setengah siswa perempuan jatuh hati.
Tentu saja, bahkan Eugeo tidak ingin mengalaminya lagi. Jadi, dia kagum terhadap bangsawan yang bertarung dengan goblin menakutkan itu, juga dengan orcs dan ogre yang jauh lebih besar dan menakutkan dari mereka, di garis depan.
Tapi di sisi lain. Dari waktu Dewi Pencipta Stacia membuat hidup dan Dunia Manusia, sudah tiga ratus delapan puluh tahun berlalu. Sampai sekarang, tentara kegelapan belum pernah berhasil menginvansi dengan jumlah besar bahkan sekali. Dengan kata lain, di empat kerajaan, terutama bagi bangsawan kelas atas, telah terbiasa dengan kehidupan sehari-hari mereka, hidup di rumah mewah dan menerapkan Hak Menghukum bagi bangsawan kelas rendah, dan mempersiapkan untuk menghadapi musuh yang bahkan mereka tidak pernah melihatnya sendiri—tanpa mengetahui kapan mereka akan datang...
Dia seperti dapat melihat apa yang ada di hati Eugeo, Tizei memperlihatkan senyuman sambil berjalan di sampingnya dan berbicara.
"...Karena itu, ayahku ingin anak tertua mereka untuk menjadi bangsawan kelas empat, setidaknya supaya tidak menghadapi hukuman, sebelum mensukseskan keluarganya, karena itu aku mendaftar di akademi ini. Jika aku dipilih sebagai perwakilan dari akademi dan mendapat posisi bagus di Turnamen Kerajaan Ilmu Pedang, itu menjadi tujuan yang mustahil...Hmm, untukku yang hanya mendapat sebelas di ujian pendaftaran, itu mungkin menjadi mustahil seberapa kuat aku mencoba, huh."
Eugeo merasa gadis ini sedang mendecak lidahnya dengan cepat dan tersenyum yang mungkin terlalu terang dan segera menutup matanya.
Dibanding dengan dirinya sendiri, yang memasuki akademi untuk alasan pribadi yaitu bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang dibawa ke Gereja di masa lalu, di berpikir tujuan Tizei yang terus belajar ilmu pedang untuk demi meningkatkan kehormatan keluarga untuk menjadi bangsawan kelas atas.
"Tidak...Tizei, kau hebat. Demi ayahmu, kau bekerja keras dan menjadi dua belas besar sebagai siswa baru."
"Bu-bukan seperti itu!...aku hanya beruntung karena tema dari perfoma style adalah style yang aku kuasai. Aku hanya bisa sampai segini setelah belajar dari ayahku sejak umur tiga tahun, kau lebih hebat, Eugeo-senpai. Memikirkan bagaimana sulitnya mendapat rekomendasi dari penjaga regu, dengan mudah kau mendapatkannya dan bahkan menjadi tempat kelima diantara elite swordsmen-in-training. Aku percaya bahwa ini menjadi suatu kehormatan untuk melayanimu sebagai valetmu, Eugeo-senpai."
"Bu-bukan, itu..."
Eugeo menyadari sikapnya untuk menundukkan kepala dan mengusap kepalanya dengan tangan kanannya hampir sama dengan Kirito, yang sedang mengikutinya di belakang, dan segera menurunkan tangannya dengan cepat.
Tizei mengatakan bahwan itu adalah "kehormatan", tapi kenyataannya, alasan kenapa gadis itu menjadi valet Eugeo dan Ronie menjadi valet Kirito, dapat dikatakan sebagai bimbingan dari Dewi, Stacia atau dapat dikatakan, sebuah kebetulan.
Pemilihan valet menggunakan sistem dimana dua belas orang yang akan menjadi elite swordsmen-in-training berikutnya, mereka memilih sesuai dengan rangking mereka, diantara dua belas besar murid baru. Dengan kata lain, tahun ini, yang pertama adalah Raios, memilih satu orang, lalu second-ranked Humbert memilih yang lain, sementara Eugeo dan Kirito mendapat giliran kelima dan keenam untuk memilih. Tetapi, setelah berdiskusi dengan patnernya, keduanya memutuskan untuk menukar giliran untuk memilih menjadi yang terakhir. Untuk membuat murid baru tidak diambil oleh sepuluh orang yang lain sebagai valet mereka.
Hasilnya, dua papan kayu yang diberikan kepada Eugeo dan Kirito memiliki nama Tizei dan Ronie. Mereka sedikit kehilangan kata saat mereka mengetahui bahwa mereka berdua adalah siswa perempuan—Kirito bahkan memiliki ekspresi rumit—tapi akhirnya, Eugeo berpikir itu adalah hal yang bagus. Bahkan, alasan tidak adil kenapa sepuluh orang yang lain memilih mereka Tizei dan Ronie adalah hanya gadis itu yang lahir sebagai bangsawan kelas enam diantara dua belas orang.
Tentu saja Tizei dan Ronie tidak tahu fakta dibalik pertemuan untuk memilih dan tidak ada alasan untuk memberitahu mereka. Eugeo berpikir bagus bila mereka menjadi valet mereka dan Kirito mungkin...juga sama.
Begitulah, setelah dia terbatuk sekali, Eugeo segera mengganti topik dengan pengalamannya.
"...Ujian pendaftaran bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan bahkan untuk diriku, bahkan aku sangat gugup. Aku bisa melewatinya dan menjadi swordsman-in-training tahun ini, semuanya berkat Kirito yang mengajariku banyak hal..."
Setelah berkata itu, mata Tizei terbuka lebar, menunjukkan matanya yang berwarna merah seperti daun di musim gugur, dan berteriak.
"Eeh!? Jadi Kirito-senpai jauh lebih kuat dibandingkan dengan Eugeo-senpai?"
"......Itu sangat menyakitkan jika kau bertanya tentang hal itu..."
Ketika Tizei tertawa riang, dia melihat ke belakang. Dia juga hanya dapat memperhatikan bagaimana patnernya mengurus valetnya. Tapi dia dapat mendengar sedikit dan bagian dari perkataan Kirito yang berkata dengan suara lembut.
"...Jadi, aku percaya bahwa hanya ada dua cara untuk bersiap melawan tebasan dari postur upper-level di High Norkia-style sebelum itu terjadi. Entah itu dari atas atau diagonal dari kanan atas...untuk gerakan yang lain maka akan membutuhkan langkah, jadi kau memiliki waktu untuk menangkisnya bahkan setelah melihatnya. Sejauh ini hanya antara tebasan dari atas atau diagonal kanan atas..."
—Baik, karena menaruh materi, Ronie sepertinya sangat antusias untuk mendengarkan juga.
Membalikkan badan ke depan dengan senyuman, sebuah pemikiran muncul di kepala Eugeo.
Tujuan Eugeo belajar tentang pedang adalah untuk bertemu kembali dengan Alice, sementara Tizei dan Ronie untuk menaikkan kehormatan keluarga mereka. Dan Kirito mengatakan bahwa tujuannya sama dengan Eugeo bagaimanapun dia bertanya.
Tentu saja. Dia tidak memiliki keinginan untuk meragukan persahabatan mereka, tapi ada suatu prasangka yang dia tahu. Kirito tidak belajar ilmu pedang untuk demi mendapatkan sesuatu, tapi untuk menjadi master dari ilmu pedang itu sendiri. Itu sedikit berhubungan dengan manusia, Kirito, dan jenis ilmu pedang itu, Aincrad-style. Dia hanya percaya bahwa keduanya menjadi kesatuan yang sama.
Sampai sekarang, Eugeo hanya dapat berpikir bahwa Raios dan Humbert akan menjadi lawannya di pertandingan resmi bulan depan. Tetapi, berpikir tentang itu, bagaimana pertandingan itu berjalan, itu akan sangat mungkin jika lawannya bukan mereka berdua, tapi patnernya dan gurunya juga, Kirito.
Tentu saja, dia tidak yakin bahwa dia akan menang. Tapi sebelum itu, dia tidak dapat membayangkan situasi dimana dia harus serius mengayunkan pedang melawan Kirito. Cukup bayangkan hasilnya jika dia memegang pedang dan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
"Ah, bukankah itu kolam bebek?"
Tizei menunjuk dengan tangan kanannya kearah depan, membuat Eugeo sadar dari pikirannya. Mencari dimana tangan putih itu menunjuk arahnya, dia melihat kolam yang indah, dengan tanag yang tebal, dengan semak-semak yang pendek, itu sangat tepat menjadi tempat untuk makan.
"Ya, tempat itu bagus. —Hey, Kirito, Ronie! Ayo kita makan siang di kolam bebek itu!"
Ketika Eugeo berbalik dan berteriak, sebuah senyum yang biasa muncul di muka temannya yang sedang menaikkan tangan kanannya.
Membuka kotak besar yang mereka terus bawa di rumput, keenpatnya duduk membentuk lingkaran.
"Aah...Aku lapar..."
Kirito membuat sikap yang berlebihan yakni menekan di sekitar perutnya dan kedua gadis itu tertawa ketika membuka keranjang makanan yang mereka bawa, dengan cepat mengatur posisi makanan itu.
"Erm, kami yang membuat itu, jadi tidak tahu apakah itu sesuai dengan selera kalian atau tidak..."
Dengan sikapnya yang biasa dapat dirasakan bahwa novice trainee Ronie Arabel sedikit malu ketika dia mengatur posisi piring itu. Jika gadis itu sepertinya mengerti elite swordsman-in-training yang berambut hitam tanpa cemberut saat dia pergi keluar pada hari ini, itu tidak perlu waktu yang lama untuk terbiasa dengan guru pembimbingnya.
Sebuah menu mewah yang ditaruh di keranjang itu, termasuk potongan daging dan ikan dan juga keju yang dioles di roti putih, ayam goreng pedas dan kue yang dipenuhi dengan buah kering dan berry.
Tizei mengecek Life dari makanan itu sementara Ronie mengtakan doa sebelum makan dan semuanya mengikutinya dengan kata, "Avi Admina"—dengan Kirito yang mengambil makanan terlebih dahulu setelah berdoa. Menaruh bagian dari ayam goreng di mulutnya, dia mengunyahnya dengan mata tertutup sebelum berbicara dengan sopan.
"Ini, sangat lezat. Rasanya tidak terlalu sama dengan makanan dari Deer Leap, Ronie-kun, Tizei-kun."
"Wah, benarkah?!"
Dua gadis itu berteriak dengan wajah mereka berseri-seri, mengganti pandangannya dan tertawa senang. Eugeo perlahan mengambil juga dan menggigit ikan asap itu dan menaruhnya diantara potongan roti.
Tidak seperti bekal dari Alice yang diantar padanya setiap hari, pada waktu lalu ketika dia masih mengayun kapak sendirian di hutan, rotinya memiliki rasa dari kota dengan mentega putih dioleskan. Dia tidak terbiasa dengan makanan kelas atas ketika sampai di pusat, tapi dia dapat mempertimbangkan kelezatannya sekarang. Ketika mempertimbangkan apakah dia dapat terbiasa, Eugeo mengangguk pada Tizei juga.
"Ya, ini sangat enak. Tapi bukankah sulit untuk mendapat banyak bahannya?"
"Ah...hmm, sebenarnya..."
Tizei manghadap dia sekali lagi dan Ronie menjawab dengan rendah hati.
"Seperti yang kalian tahu, novice trainees tidak dapat pergi kecuali hari istirahat, jadi kami meminta Kirito-senpai dan dia membantu kami untuk membeli bahannya di bazaar pusat kemarin setelah sekolah. Eugeo-senpai selalu di perpustakaan, jadi..."
"Eh, a...aku mengerti, jadi itu yang terjadi."
Tercegang, dia menatap Kirito yang sedang menghabiskan waktunya untuk menelan makanannya.
"Aku akan menemanimu untuk membeli jika kau memintanya...Tidak, sejak awal, jika kau telah akur dengan mereka, tidak ada alasan untuk kau bila lari sekarang! Apa yang membuat semua masalah berasal..."
Tenaganya terkuras ketika hanya sedikit marah, Eugeo mengambil bagian terbesar dari kue buah dan menguyahnya.
"Aah, dan aku telah membuka mataku untuk hal itu...Juga, hal yang kukatakan. Aku berpikir bahwa aku yang terlalu khawatir untuk kasusmu, Swordsman-in-training Eugeo-dono."
"Tidak ada kebutuhan yang kau tidak lakukan, huh..."
Setelah melihat Kirito yang menyegir dari sebelahnya, dia berbalik kearah Tizei dan Ronie yang terkejut dan berbicara dengan mengeluh. "Orang ini selalu saja bersikap seperti ini sejak dulu. Itu juga sama sebelum kita mendaftar menjadi Zakkaria Guard Squadron dan perjalanan menuju Centoria, dia bertindak mencurigakan dan menakutkan saat pertama, tapi sebelum aku mengetahuinya, istri dan anak di pertanian dan penginapan menyayanginya. Jadi lebih baik kau berhati-hati dan tidak berakhir seperti itu, Ronie."
Tetapi, sepertinya itu sudah terlambat saat novice trainee yang berambut merah itu menundukkan kepalanya dengan pipi yang sedikit kemerahan.
"Tidak, berakhir seperti itu, kau katakan...Kirito-senpai terlihat menakutkan, tapi aku menemukan bahwa dia adalah orang yang baik dan terbuka, jadi..."
"Ah, tentu saja, kau juga, Eugeo-senpai."
Mengembalikan dengan senyuman tanpa energi kepada Tizei yang juga tersenyum, Eugeo memakan sesuap kue lainnya.
Meski melakukan itu, dia terus melihat patnernya yang ada disisinya yang dengan tenang mengunyah makanan, berpikir bahwa apakah ada cara untuk menurunkan sikap pemuda itu—Itu ketika saat Tizei dan Ronie langsung berdiri dan membuka mulut mereka sambil berbicara dengan sopan.
"Erm... Eugeo-senpai, Kirito-senpai. Sebenarnya kami memiliki permintaan yang ingin kami tanya pada kalian berdua.
"Y-Ya? ...Apa itu?"
Ketika Eugeo menggerakkan kepalanya ke sisi lain. Tizei menyibak rambutnya dan berbicara dengan dalam.
"Kami meminta maaf karena bertanya hal ini, tapi juga...ini tentang permintaan untuk mengganti guru pembimbing yang kau bilang waktu lalu, Swordsman-in-training Eugeo-dono, kami ingin kau untuk berbicara dengan managemen akademi untuk kepentingan kami..."
"Ap-Apa maksudnya?"
Kehilangan kata sekali lagi, dia mencoba mengingat lagi jika dia pernah berkata seperti itu dan akhirnya mengingatnya. Itu benar, dia sepertinya mengingat berkata pada Ronie, "Aku pikir tidak apa-apa jika kau ingin aku berbicara dengan guru untukmu dan menggantir guru pembimbingmu", ketika Kirito membuatnya menunggu beberapa hari yang lalu.
Jadi, apakah makanan mewah ini adalah hadiah perpisahan? Eugeo mencoba untuk mengkonfirmasinya tentang hal ini ketika membantah dengan kecemasan.
"Baiklah...apakah ini berarti kau keluar sebagai valetku...? Atau Kirito... atau bahkan keduanya...?"
Saat mengatakan hal itu, Tizei dan Ronie mengangkat wajah mereka, memperlihatkan ekspresi bingung dengan cepat dan segera menggelengkan kepala mereka di waktu yang bersamaan. Tizei yang duduk di samping kiri Eugeo yang mulai berbicara pertama kali dab dia melakukan itu dengan panik.
"Itu tidak mungkin! Ini bukan untuk kami, itu sangat tidak masuk akal. Bahkan sebaliknya, ada banyak yang ingin bertukar agar bisa melayani sebagai valet kalian berdua... tidak, bukan itu yang aku inginkan, yang ingin mengganti adalah seorang gadis dari kamar kami di asrama. Namanya Frenica dan dia adalah gadis yang baik juga serius, serta berusaha keras dan menguasai ilmu pedang serta rendah hati tapi..."
Tizei menurunkan bahunya dan Ronie melanjutkan berbicara.
"...Sebenarnya, elite swordsman-in-training yang memilih Frenica sebagai valet sepertinya menjadi orang yang keras...Terutama beberapa hari ini, dia dihukum untuk periode waktu yang sangat lama dari kesalahan kecil dan disuruh untuk menyediakan layanan yang seharusnya dipertimbangkan yang agak tidak pantas dengan akademi, terlihat seperti sangat menderita..."
Novice trainees memegang tangan kecil mereka di depan dada mereka, mata merah dan coklat itu menjadi gelap.
Mengembalikan setengah dari ayam goreng itu ke piring, Eugeo bergantian melihat di antara mereka, tidak sepenuhnya ingin mempercayai itu.
"T-tapi...meskipun jika seorang elite swordsman-in-training, menyuruh seorang valet trainee untuk melakukan tugas yang ditentukan oleh akademi tapi diluar dari itu juga seharusnya tidak harus..."
"Ya, itu...tentu saja, dia tidak dapat dikatakan melanggar peraturan sekolah, tapi peraturan itu tidak menuliskna tentang setiap perbuatan...seperti berbagai perintah yang tidak melanggar aturan dan juga, sesuatu yang berat untuk siswa perempuan untuk melaksanakannya.."
Dengan Tizei terhuyung-huyung dengan wajahnya yang memerah, Eugeo perlahan dapat menebak apa yang diperintahkan kepada siswa valet novice, Frenica, dari swordsman-in-training tersebut.
"Tidak, aku mengerti situasi dari gadis itu, Frenica, meskipun kau tidak perlu berbicara lebih jauh lagi. Aku harap dapat memberikan bantuan padanya secepat yang aku bisa, tapi jika aku tidak salah..."
Dia melanjutkan ketika mengingat kembali bagian yang cocok dari peraturan akademi yang dia ingat.
"Erm... 'Untuk memastikan jumlah maksimum bantuan yang diberikan kepada elite swordsman-in-training, seorang valet dipilih untuk menerima tugas dari elite swordsman-in-training. Tugas menjadi seorang valet itu diberikan dengan memilih dua belas novice trainees yang mendaftar tahun ini dan nilai tertinggi, tapi dengan izin dari elite swordsman-in-training dan instruktur yang bertugas seorang valet dikeluarkan dan pilihan lain jatuh kepada novice trainees lainnya...seperti itu, aku yakin. Dengan kata lain, untuk mengeluarkan pengangkatan Frenica, tidak hanya izin dari instruktur yang dibutuhkan, tapi juga swordsman-in-training, huh. Sebenarnya, aku dapat mencoba meyakinkannya lebih dulu...siapa nama dari swordsman-in-training itu?"
Saat bertanya itu, Eugeo mengerutkan keningnya, merasakan suatu pertanda yang tidak baik. Tizei ragu-ragu untuk sesaat sebelum perlahan mengatakan suatu nama dari mulutnya yang kelihatan sulit baginya.
"Sebenarnya... dia Second-ranked Elite Swordsman-in-training Humbert Zizek-dono."
Sesaat setelah dia mendengar itu, Kirito yang mendengar itu tanpa kata langsung menggeram, sepertinya kesal.
"Memikirkan bagaimana dia berakhir ketika dia yang memulai pertandingan itu, orang itu masih memiliki sikap buruk, huh. Aku pasti akan mengalahkannya lain kali."
"Aku tidak melakukan sesuatu padanya atau sesuatu. —Tapi itu mungkin bisa menjadi alasannya..."
Eugeo perlahan menggigit mulutnya sebelum dia menjelaskan keadaan kepada Tizei dan Ronie.
"Sebenarnya, kau tahu, aku pernah berduel dengan Swordsman-in-training Humbert di ruangan praktik beberapa hari yang lalu. Hasilnya adalah seri, tapi Humbert sepertinya tidak puas dengan itu...Jadi alasan kenapa dia menjadi keras terhadap Frenica akhir-akhir ini mungkin karena duel itu..."
"Geez, menggangu valetnya sendiri karena tidak dapat menang dari Eugeo, orang itu bukanlah seseorang yang pantas menjadi swordsman."
Memikirkan kata-kata pedas yang keluar dari Kirito, dua gadis itu masih belum mengerti situasinya. Dengan alisnya yang terangkat, Tizei berkata dengan nada yang tidak pasti.
"Erm...Dengan kata lain, saat Elite Swordsman-in-training Zizek-dono di pertandingan sebelumnya seri dengan Eugeo-senpai, dia menginginkan, err..."
Dia tidak dapat menemukan kata yang ingin dia bilang, jadi Ronie melanjutkannya, dengan sedikit tambahan.
"Balas dendam... ini katanya, kan..."
"Ya, kata itu. Sebagai balas dendam karena tidak menang di pertandingan itu, dia menggunakan Hak Menghukum kepada Frenica dan menyuruhnya melakukan sesuatu memalukan padanya, seperti itu kan...?"
Meskipun mereka lahir sebagai bangsawan seperti Humbert dan Raios, mereka lahir sebagai bangsawan kelas enam yang berdekatan dengan orang biasa, itu pasti tidak mudah untuk mereka mengerti perbuatan tak beralasan dari second-ranked swordsman-in-training. Bahkan sulit untuk menemukan kata yang tepat untuk menyampaikannya, itu adalah perbedaan dari pemikiran mereka.
Untuk Eugeo yang lahir sebagai penduduk desa pinggiran, dia dapat menebak alasan Humbert, tapi dia sama sekali tidak bersimpati untuk itu. Ketika dia masih kecil di Rulid, anak dari penjaga desa, Jink melakukan berbagai hal padanya, tapi alasannya bisa dibilang sangat kekanak-kanakan. Jink menyukai Alice, jadi dia tidak menyukai Eugeo yang terus bersamanya dan menggangunya dengan menyembunyikan sepatu dan sebagainya.
Tetapi, sepertinya Humbert melampiaskan kemarahannya karena tidak menang dari pertandingan melawan Eugeo kepada seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya, valetnya sendiri— Frenica yang seharusnya dia bimbing.
Dia tahu adanya kata, balas dendam dan melampiaskan kemarahan. Bahkan Eugeo pernah mengalaminya sekali ketika dia masih muda, ketika dia iri terhadap pedang kayu yang ayahnya beli untuk kakaknya sebagai hadiah dan tidak dapat berbuat apa-apa selain menebas batu itu berulang kali dengan pedang kayu yang di buat ayahnya, dan berakhir dengan mematahkannya. Ayahnya memarahinya, dan berkata bahwa sia-sia melakukan sesuatu untuk melampiaskan kemarahan dan dia tidak pernah melakukannya lagi.
Seperti mematahkan pedang kayumu sendiri, itu seperti menjadi bersikap terlalu tegas terhadap valetmu sendiri tidak melawan Taboo Index, Hukum Dasar Kerajaan, atau bahkan peraturan Akademi Master Pedang. Tetapi—meski itu betul, bukankah itu berarti «itu boleh» untuk melakukannya? Di dunia ini, selain hukum yang sudah ada, bukankah seharusnya ada sesuatu yang penting untuk diikuti...?
Pada saat itu, Tizei, yang sepertinya memikirkan pemikiran yang sama dengan menundukkan kepalanya, merengut saat dia memaksakan kata untuk keluar dati tenggorokannya.
"Aku...Aku tidak mengerti."
Menaikkan wajahnya untuk menatap Eugeo, gadis yang merupakan penerus keluarga bangsawan kelas enam mengelus pipinya yang masih memiliki sedikit sifat kekanak-kanakan saat dia melanjutkan.
"...Ayahku selalu berkata seperti ini. Kami...keluarga Shtolienen adalah bnagsawan, berkat yang kurang lebih berasal dari pendahulu kita yang mendapat rekomendasi dari kerajaan yang lalu untuk upaya militer yang sedkit. Karena itu, kita tidak mengambilnya untuk kesenangan, bahwa kita hidup di rumah yang lebih besar dengan orang biasa dan diberikan beberapa keistimewaan. Bahkan bahwa kita bangsawan berarti kita seharusnya menggunakan segala usaha untuk kepada orang yang tidak dapat hidup dengan bahagia dan damai, dan ketika saat perang tiba, kita harus mencabut pedang kita untuk melindungi yang bukan bangsawan dan berjuang hingga mati sebelum mereka melakukannya, dia bilang..."
Lalu, Tizei segera menutup mulutnya dan melihat dengan mata yang seperti musim gugur menuju selatan—menuju pusat dari Centoria. Dia menatap serius kearah bangunan Administrasi Kerajaan yang terlihat menjulang dari puncak pohon untuk sebentar sebelum dia melihat kembali Eugeo dan yang lainnya.
"...Berbicara tentang keluarga Zizek, mereka adalah keluarga terkenal dengan membangun rumah besar di distrik keempat dan bahkan memiliki tanah sendiri di luar Centoria. Jadi bukankah seharusnya Elite Swordsman-in-training Humbert-dono berjuang lebih keras dibanding dengan bangsawan kelas bawah untuk kebahagiaan bersama? Meski jika itu tidak tertulis di Taboo Index, bangsawan seharusnya menyadari tindakannya sendiri dan tidak membuat kesalahan terhadap orang lain melalui mereka...Itulah yang ayahku katakan. Perbuatan Humbert-dono mungkin tidak melawan Taboo Index dan peraturan akademi ... tapi...tapi meski begitu, Frenica terus menangis di tempat tidurnya saat malam. Bagaimana mungkin...perbuatan itu dapat dimaafkan...?"
Tizei menyelesaikan pidato panjangnya dengan segenap kemampuannya dan sebuah air mata keluar dari kedua matanya. Tetapi, Eugeo yang memiliki pendapat yang sama dengan gadis itu tidak memiliki balasan yang langsung padanya. Ronie mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dan menyeka di sekitar daerah mata Tizei, di saat itu—
"Dia adalah ayah yang baik. Aku harap aku dapat bertemu dengannya."
Eugeo tidak mempercayai bahwa suara tenang itu berasal dari mulut Kirito untuk sebentar.
Swordsman hitam itu, yang menginspirasinya dengan perasaan kagum dan takut kepada muridnya dengan pandangan mengintimidasi dan sikap yang menakutkan, juga sebanding dengan head swordsman-in-training sebelumnya, Uolo Levanteinn, yang menjadi legenda, melihat kearah Tizei dengan mata yang menghibur dan berbicara lembut, kata demi kata.
Sword Art Online Vol 11 - 073.jpg
"Apa yang ayahmu ajarkan padamu, disebut «Kewajiban Bangsawan» di En...tidak, Pengucapan Suci itu disebut, bagaimana semangat seharusnya, atau dengan kata lain, orang yang memiliki kekuatan harus menggunakannya untuk demi orang yang tidak memilikinya...itu benar, kau dapat mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang dapat dibanggakan.
Itu adalah kata yang bahkan Eugeo dengar untuk pertama kalinya setelah setahun menerima pelajaran Pengucapan Suci, tapi artinya sepertinya telah masuk ke dalam pikirannya dan dia mengangguk dengan dalam. Suara Kirito keluar seperti angin musim semi.
"Kebanggaan itu jauh lebih penting dibanding dengan suatu hukum atau peraturan. Meski jika itu tidak dilarang oleh hukum, ada suatu hal yang tidak dapat dilakukan dan sebaliknya, ada sesuatu yang harus dilakukan meskipun itu melanggar suatu hukum."
Deklarasi yang masuk akal itu, bisa dibilang membantah Taboo Index— atau Gereja Axiom itu sendiri, membuat Ronie dan Tizei menelan nafas mereka. Tetapi, Kirito menatap gadis muda itu dan melanjutkan untuk tetap berbicara.
"Dulu, dulu sekali, ada seorang yang hebat bernama Saint Augustinus berkata seperti ini. Hukum yang tidak adil sama saja dengan tidak memiliki hukum. Tanpa memperhatikan bagaimana hukum atau peraturan itu seharusnya, kau tidak harus mematuhinya. Meski jika itu sama sekali tidak melanggar taboo ataupun peraturan, perbuatan Humbert bisa dibilang salah. Tidak mungkin ada alasan untuk membuat sesuatu yang membuat gadis tak bersalah menangis. Karena itu seseorang harus menghentikannya, dan dengan kata lain, itu seharusnya..."
"Aah...Sepertinya itu untuk kita, huh."
Eugeo mengangguk, tapi dia masih memiliki keraguaan untuk ditanyakan kepada patnernya.
"Tapi Kirito...jika begitu maka siapa yang menentukan hukum itu sekarang? Jika semua orang berlaku sesuka mereka, maka tidak ada peraturan, bukankah begitu? Bukankah Gereja Axiom ada untuk memiliki kepentingan menghukum orang yang bermasalah?"
Itu benar bahwa the Taboo Index tidak menuliskan setiap perbuatan yang benar dan salah yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, itu berakhir yang membuat Humbert melampiaskan kemarahan kepada valetnya sendiri. Tetapi, seperti bagaimana Sister Azariya memarahi Jink untuk gangguannya di masa lalu, Eugeo dan Kirito dapat meyampaikan pendapat mereka kepada Humbert, usulan mereka. Seharusnya itu sama sekali berbeda dari meragukan kekuasaan Gereja.
Orang yang membuat dunia ini adalah Tuhan, dan Gereja adalah wakil dari Tuhan. Gereja itu telah memimbing Dunia Manusia selama beratus tahun tanpa kesalahan, sesuatu dapat berjalan tanpa dia mengatakan itu.
Orang yang menjawab pertanyaan Eugeo bukanlah Kirito, tapi Ronie yang terus diam sampai sekarang. Seperti biasa gadis yang ramah itu mulai berbicara dengan cahaya kuat dimatanya, itu membuat Eugeo sedikit terkejut.
"Sepertinya...Aku merasa aku sedikit mengerti apa yang Kirito-senpai katakan. Sebuah semangat yang penting untuk melakukan sesuatu meskipun itu tidak tertulis di Taboo Index...itu sepertinya rasa keadilan pada diri sendiri, yang kutahu. Bukan hanya mematuhi hukum, tapi berpikir kenapa hukum ada dengan keadilan seperti itu...Pemikiran seperti itu jauh lebih penting dibanding mematuhinya..."
"Yep, seperti itu, Ronie. Dapat berpikir adalah kemampuan terhebat dari manusia. Itu jauh lebih kuat dari pedang terkenal, lebih kuat dari semua secret move."
Kirito mengatakan itu sambil tersenyum dan terlihat dari matanya, dengan itu dan sesuatu yang lain, sebuah perasaan yang dalam dapat terlihat. Menghadapi patnernya yang memiliki banyak misteri di sekitarnya, meskipun menghabiskan waktu dua tahun dengan tidur dan makan bersama, Eugeo menanyakan satu pertanyaan terakhir.
"Tapi Kirito, orang yang kau katakan tadi, Augus itu...seorang apa, siapa sebenarnya dia? Seorang Integrity Knight dari Gereja?"
"Hmm, seorang pendeta, kurasa. Dia mungkin sudah mati, sepertinya."
Dengan jawaban itu, Kirito tersenyum lebar.
Setelah melihat Tizei dan Ronie pergi dengan membawa keranjang yang benar-benar kosong dan melambaikan dengan tangan mereka sambil kembali ke asrama novice trainee, Eugeo melihat kearah wajah patnernya lagi.
"...Kirito, apakah kau telah memikirkan sesuatu untuk masalah tentang Humbert?"
Saat mengatakan itu, Kirito membuat wajah yang rumit dan mengeluh.
"Hmm...Meskipun jika kita mengatakan untuk berhenti menganggu siswa junior, dia bukanlah tipe orang untuk segera menghentikannya...Tapi meski begitu..."
"Tapi meski begitu...apa?"
"Memikirkan Humbert sebentar, pemimpin orang itu, Raios terus diam dengan cara yang buruk, tapi dia bukanlah orang yang idiot. Untuknya yang terpilih sebagai head elite swordsman-in-training, bukan hanya dia memiliki kemampuan pedang yang baik, sacred arts, hukum dan sejarah nilainya seharusnya bagus juga.
"Itu benar, lebih baik dibanding dengan seseorang yang hanya mendapat peringkat enam hanya dengan kekuatan fisik saja."
"Cerita itu untuk dua orang siswa, sebenarnya."
Mereka tanpa sadar telah memulai percakapan aneh mereka seperti biasa, Eugeo menyadari hal itu bukanlah waktu yang tepat dan mengambil inisiatif.
"Dan jadi...?"
"...Raios berada di kamar yang sama dengan Humbert, kan? Jadi apa kau tidak pikir aneh bila dia terus diam tentang Humbert yang melampiaskan kemarahan pada valetnya sendiri. Mekski jika tidak ada hukuman formal, setidaknya rumor yang buruk akan menyebar, dan pada saat itu, reputasi Raios akan turun juga, karena dia berada di kamar yang sama. Untuk seseorang yang memiliki harga diri tinggi, aku percaya bahwa dia membenci hukuman sejenis itu..."
"Tapi...faktanya Humbert menganggu Frenica. Dengan kata lain, bukankah berarti Raios telah menyerah dengan perilaku Humbert juga? Jika ini disebabkan oleh duel denganku, aku pasti membutuhkan kata dengan..."
"Dan itulah yang aku maksudkan."
Kirito berbicara dengan ekspresi saat dia mengunyah nedge lezta kering.
"Mungkin perbuatan ini untuk menargetkan padamu, Eugeo? Kau keberatan dengan perbuatan Humbert, mengatakan suatu argument, lalu hasilnya, berakhir dengan melanggar peraturan akademi...jika direncanakan seperti itu..."
"Eeh?"
Eugeo membuka lebar matanya karena ide tak terduga.
"Tidak mungkin...itu mungkin mustahil. Meski jika tempat kita berbeda, Humbert dan aku adalah swordsmen-in-training. Selama aku tidak secara langsung menggangunya, tidak peduli bagaimana dia melapornya, itu tidak akan dianggap sebagai sikap tidak menghormati. Bahkan, aku lebih khawatir terhadapmu, Kirito."
"Aah, sebenarnya...kau mungkin benar. Seperti membuat kotor seragamnya atau seperti itu."
Eugeo menghela nafas pada patnernya yang mengatakan itu tanpa ekspresi. Kirito pernah melakukan suatu perbuatan tidak menghormati, pada pemimpin sebelumnya, Uolo, dan disuruh untuk berduel dengan keadaan yang tidak masuk akal dengan menggunakan pedang asli dan serangan pertama untuk menang.
"Baiklah, ketika kita masuk menuju kamar Humbert, aku akan berbicara dengannya. Kirito, kau cukup berdiri di belakang dan sedikit mengintimidasinya."
"Serahkan padaku, itu adalah keahlianku."
"...Aku berharap padamu. Kita akan memberikan peringatan formal hari ini dan jika mereka tidak menanggapinya, kita akan meminta permohonan pengeluaran Frenica terhadap pengelola. Humbert setidaknya akan mendengarkan kita sedikit. Meski begitu itu pasti akan berpengaruh padanya."
"Aah...Kupikir juga begitu."
Menepuk punggung Kirito ketika dia tidak merasa puas karena sesuatu, Eugeo mulai berjalan menuju asrama elite swordsmen-in-training yang dibangun di atas bukit. Kemarahan ketika dia mendengar cerita Tizei tidak mudah hilang dan secara alami, dia meningkatkan kecepatan.
Setahun yang lalu, orang yang menunggu Eugeo, menunjuknya sebagai valet tanpa mengetahui tujuannya memilih, dan lebih dari itu dia memiliki nama, Gorgolosso Baltoh, dia adalah orang hebat yang pasti tidak akan melewatkan hari sebelum umurnya dua puluh tahun.
Tubuh besar itu dengan sekitar dua kali dari Eugeo yang juga ditutupi oleh otot keras, dan didampingi dengan bekas cukuran hebat yang mirip dengan surai darisingah yang hidup di Kerajaan Selatan, meskipun Eugeo belum pernah melihat mereka selain dari seni, mereka membuat dia bertanya jika dia memasuki ruangan instruktur untuk pertama kalinya.
Gorgolosso mengambil pandangan sekilas pada Eugeo yang membeku karena tekanan, dan menyuruhnya "Lepaskan pakaianmu", dengan suara keras. Eugeo sangat ketakutan, tapi dia tidak dapat menolaknya, jadi dia melepaskan pakaian seragam abu-abunya, menyisakan satu potong celana dalamnya. Dia telah ketakutan sekali lagi, dari melihat kepala hingga ujung kakinya dengan pandangan tajam itu—lalu Gorgolosso memberikan sebuah roti, memperlihatkan senyum dan berkata, "Baiklah, kau telah terlatih dengan baik".
Merasa lega dari dalam hatinya sambil dia mengenakan kembali pakaiannya, Gorgolosso menginformasikan Eugeo bahwa dia bukanlah seorang bangsawan, tapi seorang yang dibesarkan dari penjaga umum juga, yang juga alasan kenapa dia memilih Eugeo karena memiliki sejarah yang sama.
Untuk satu tahun ke depan setelah itu, meskipun sikap bersemangat itu menimbulkan masalah bagi Eugeo saat itu, dia tidak bekerja padanya tanpa alasan, mengenalkannya dengan pedang dengan memperhatikan kesabaran. Eugeo masih berpikir bahwa Valtio-style yang diajarkan oleh Gorgolosso juga sama pentingnya dengan Aincrad-style Kirito yang membantunya untuk lolos dari tes penerimaan swordsman-in-training.
Hari dimana Gorgolosso lulus dari akademi dan meninggalkan pusat, Eugeo menanyakan suatu pertanyaan yang dia sembunyikan selama satu tahun. Tentang kenapa dia memilihnya, dibanding Kirito yang memasuki sekolah dengan rekomendasi dari penjaga regu juga.
Ketika menggosok bekas cukurannya, Gorgolosso menjawab.
—Benar, aku mengetahui bahwa kemampuan pedang orang itu jauh lebih tinggi dari kamu ketika aku melihat perfomanya selama ujian masuk. Tapi kau tahu, alasan sebenarnya aku memilihmu. Aku merasa bahwa kau adalah tipe orang yang akan berjuang hingga mati ketika melihat ke atas, seperti diriku. ...Juga, satu alasan atau lainnya, Rina second-ranked telah memilih Kirito sebelumnya, begitu.
Gahahaha, ketika dia tertawa dengan senang, Gorgolosso mengusap kepala Eugeo dengan tangan kuatnya dan berkata. Bahwa dia pasti telah menjadi swordsman-in-training, dan akan terus mengingat valet traineenya. Eugeo mengangguk tanpa henti sambil menahan air matanya dan mengantar Gorgolosso hingga ke gerbang sekolah sampai bayangannya hilang dari pandangan.
Orang itu yang telah mengajarkannya bahwa elite swordsmen-in-training dan valet trainees mereka tidak memiliki hubungan yang sekedar guru dan pembantu. Eugeo mungkin berpikir bahwa dia mungkin tidak menjadi guru seperti Gorgolosso. Tapi meski begitu, dia bemaksud untuk mecoba sebaik mungkin untuk satu tahun ini, untuk mengajar apa yang diajarkan oleh orang itu, meski itupun hanya sebagian kecil. Benar—ini mungkin yang Kirito katakan sebelumnya, «sesuatu yang penting dibanding dengan apapun, meski itu tidak tertulis di setiap peraturan».
Humbert dan Raios mungkin tidak mengerti ini. Saat mereka mendapat rangkin dibawah tiga puluh karena nilai ujian masuk, mereka mungkin dapat dengan mudah mengikuti pertandingan seleksi disebabkan oleh tujuan mereka untuk menjadi valet. Meski begitu, ada sesuatu yang harus dikatakan.
Mendorong pintu di depan dia dengan kedua tangannya dan memasuki asrama swordsmen-in-training. Eugeo segera menaiki tangga besar yang ada di depan dengan suara keras dari sepatu kulit mereka.

0 Response to "Sword Art Online Alicization Turning Chapter 5 - Seal of the Right Eye Part 2"

Poskan Komentar

Widget edited by super-bee
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme