Cari Blog Ini

Sword Art Online Aincrad Chapter 21


“Kelompok perintis dibantai---!?”
Kami disambut berita mengejutkan ini saat kami kembali ke mabes KoB di Grandum untuk kali pertama dalam dua minggu.
Kami tengah berada di salah satu lantai atas dari menara besi yang berfungsi sebagai mabes, didalamnya ada ruang pertemuan dengan jendela besar dimana kami terakhir kali berbicara dengan Heathcliff . Heathcliff duduk di tengah meja besar berbentuk setengah lingkaran, dalam jubah panjangnya yang biasa. Pemimpin guild lainnya duduk di sampingnya, kecuali Godfrey yang kali ini tak hadir. Heathcliff menyatukan jemari tangan kurusnya di depan wajahnya dan mengangguk pelan dengan muka masam nan dalam.
“Kejadiannya kemarin. Memetakan labirin lantai tujuh puluh lima memakan waktu agak lama, tapi kami bisa menyelesaikannya tanpa korban. Meski aku sudah mengira kami bakal mengalami masa sulit saat mengalahkan si raja...”
Aku memang merasa bahwa hal seperti ini akan terjadi. Sebebnya adalah, bahwa dari seluruh raja labirin, hanya yang lantai 25 dan 50 yang luar biasa besar dan kuat, sehingga menyebabkan kerusakan besar bagi kedua belah pihak yang bertarung.
Pertarungan dengan raksasa berkepala dua di lantai 25 secara kasat mata menyapu habis prajurit elit dari «Para Tentara», yang merupakan sebab utama runtuhnya mereka sebagai organisasi. Saat monster berlengan enam, yang terlihat seperti patung logam Buddha, melancarkan serangan ganas selama pertarungan lantai 50, banyak pemain yang ketakutan sehingga berteleport menjauh tanpa izin dan hampir-hampir menyebabkan garis depan runtuh, Jika bala bantuan datang sedikit lebih lambat saja, kami akan menghadapi sapu habis lainnya. Faktanya, orang yang mempertahankan garis sendirian selama pertarungan hingga bantuan datang berada tepat di depanku. Jika sebuah raja yang sangat-sangat kuat menanti dia level 75, maka hampir bisa dipastikan raja ini sama.
“...jadi, aku mengirimkan kelompok perintis beranggotakan 20 orang, yang berasal dari 5 guild yang berbeda.”
Heathcliff melanjutkan dengan nada monoton. Karena matanya sedang setengah terbuka, mustahil untuk menebak emosi di belakang mata berwarna tembaganya.
“Mereka merintis dengan penuh perhatian. 10 dari mereka telah tinggal di luar kamar boss sebagai cadangan...Tapi saat 10 yang pertama masuk dan mencapai pusat ruangan, gerbangnya menutup tepat ketika sang raja muncul. Berdasarkan laporan 10 orang yang menunggu di luar, pintu-pintu tetap menutup selama 5 menit, dan apapun yang mereka lakukan, termasuk merusak kunci dan menghantam pintu, tak berefek. Begitu pintu akhirnya terbuka---“
Ujung mulut Heathcliff menegang, Dia memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan.
“Tiada orang di dalam ruangan. Si Raja dan kesepuluh orang telah menghilang. Tiada tanda-tanda teleportasi. Mereka tak kembali...dan aku mengirimkan seseorang untuk memeriksa daftar kematian di monumen logam di dalam Benteng Besi Hitam untuk mengonfirmasi...”
Dia tak mengatakan bagian selanjutnya keras-keras dan hanya menggelengkan kepalanya. Di sebelahku, Asuna menahan napas dan akhirnya berhasil memaksa suara kecilnya keluar:
“10...orang...bagaimana ini terjadi...”
“Sebuah area anti-kristal...?”
Heathcliff mengangguk pelan pada pertanyaanku.
“Hanya itu penjelasannya. Berdasarkan laporan Asuna-kun, lantai 74 juga sama, jadi mungkin sekali bahwa mulai sekarang, tiap ruangan boss akan memiliki area anti kristal.”
“Sial.”
Kutukku. Jika jalan kabur darurat tertutup, kemungkinan tewas karena hal-hal tak terduga bakal meningkat tajam. Janganlah kita menghasilkan korban---itu adalah tuntunan paling penting yang harus diikuti selama menyelesaikan permainan ini. Tapi mustahil untuk menyelesaikannya bila tak mengalahkan para raja...
“Ini semakin menjadi permainan kematian beneran...”
“Namun, kita tak bisa menyerah untuk menyelesaikan permainan ni karena hal ini...”
Heathcliff memejam matanya lalu berbicara dengan nada pelan tapi penuh hasrat:
“Sebagai tambahan dari area anti-kristal, ruangan itu juga menutup jalan keluar begitu raja muncul. Karena hal ini, kami hanya bisa menyerangnya dengan tim terbesar berupa pemain-pemain yang bisa kami perintah dan koordinasi. Sebenarnya aku tak hendak memanggil kalian berdua kembali, mengingat kalian baru saja menikah, tapi aku berharap kalian dapat mengerti dilema kami.”
Aku menjawabnya dengan mengangkat lengan.
“Kami akan membantu. Tapi aku akan menempatkan keselamatan Asuna sebagai prioritas tertinggiku. Jika keadaan berbahaya mucul, aku akan memprioritaskannya sebelum yang lain.”
Heathcliff tersenyum dengan sikap yang paling tak disadari.
“Yang berharap melindungi yang lain berarti mampu mengeluarkan kekuatan terhebat. Aku berharap pada pencapaianmu di medan tempur. Serangan akan dimulai 3 jam lagi. 23 orang, termasuk kalian berdua, diharapkan ikut. Kita akan bertemu di depan gerbang teleport di Collinia pada lantai 75 pada jam 1. Semuanya, Bubar.”
Begitu dia selesai, paladin merah dan orang-orangnya bangkit serta meninggalkan ruangan.
“3 jam---Apa yang harus kita lakukan?”
Asuna menanyaiku sambil duduk –tak-tahu-bagaimana di bangku logam. Aku hanya memandanginya dalam diam. Tubuhnya terselimuti seragam tempur putih dengan hiasan merah, rambut panjang lembutnya, mata coklatnya yang berkilauan—dia begitu cantik bagaikan permata tak ternilai.
Saat dia menyadari aku terus menatapnya tanpa membelokkan pandanganku, pipi Asuna memerah dan bertanya dnegan senyum malu-malu:
“A....apa?”
Aku dengan enggan buka mulut:
“...Asuna...”
“Apa?”
“Mohon jangan marah dan dnegarkan aku. Raja yang kita hadapi hari ini...bisakah kau tak ikut dan menunggu aku kembali disini ?”
Pertama-tama, Asuna menatapku, lalu menundukkan kepalanya dengan wajah muram dan berkata:
“...mengapa kau mengatakan ini...?”
“Meski Heathcliff berkata begitu, kita tak bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi di tempat dimana kristal tak bisa digunakan. Aku benar-benar takut...saat aku memikirkannya...bahwa sesuatu akan terjadi padamu...”
“Kau ingin aku menunggu di tempat aman sementara kau pergi ke tempat yang seberbahaya itu sendirian?”
Asuna bangkit dan berjalan menuju padaku dengan langkah tegap. Matanya berkobar dengan hasrat.
“Jika aku melakukan itu dan kau tak kembali, maka aku akan bunuh diri. Aku tak hanya akan kehilangan alasanku untuk terus hidup, aku juga takkan pernah memaafkan diriku yang hanya menunggu disini. Jika kau ingin kabur, maka kita akan kabur bersama. Jika itu yang mau kau lakukan, maka aku setuju dengan itu.”
Dia selesai berbicara dan menentuh bagian tengah dadaku dengan jemari tangan kanannya. Matanya melembut dan sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.
“Tapi, kau tahu...semua yang ikut dalam pertempuran hari ini ketakutan, dan mereka semua ingin kabur. Namun, meski takut, mereka tetap setuju bergabung. Itu karena sang pemimpin dan Kirito...karena dua orang terkuat di dunia ini memimpin mereka...itu pemikiranku...Aku tahu kau tak suka memikul tanggung jawab. Tapi aku berharap kau mencobanya, hanya kali ini saja, bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita...supaya kita bisa kembali ke dunia nyata, jadi ktia bisa bertemu lagi; Aku berharap kita bisa melakukan yang terbaik bersama-sama.”
Aku mengangkat tangan kananku dan menggenggam tangan Asuna dengan lembut. Perasaan bahwa aku tak ingin kehilangan dia mengalir keluar dari dasar hatiku.
“...Maaf...aku, jadi lemah untuk sesaat. Sebenarnya, aku ingin sekali kita kabur saja. Aku tak ingin kau mati, dan aku juga tak mau. Kita tak perlu...”
Aku menerawangi kedalam mata Asuna dan terus berbicara.
“Tak apa-apa bila kita tak bisa kembali ke dunia nyata...Aku ingin terus hidup bersamamu di penginapan hutan itu. Kita berdua...selamanya...”
Asuna mencengkram dadanya dengan tangannya yang lain. Dia memejamkan mata dan bermuka masam, seakan hendak menahan sesuatu, lalu sebuah desahan kecewa keluar dari bibirnya.
“Yah...ini benar-benar seperti mimpi...Akan bagus sekali jika kita bisa melakukan itu...menghabiskan setiap hari bersama-sama...selamanya...”
Dia berhenti disitu dan menggigit bibir seakan dia tengah melepaskan mimpi yang takkan tercapai. Lalu dia membuka mata dan memandang menengadah padaku dengan wajah serius.
“Kirito, apa kau pernah memikirkan tentang ini...? Tentang apa yang terjadi pada tubuh nyata kita saat ini?”
Aku tersentak dan terdiam oleh pertanyaan tak terduga ini. Ini mungkin seseuatu yang ditanya-tanyakan tiap pemain. Tapi karena tiada cara berhubungan dengan dunia luar, tiada guna memikirkannya. Meski semuanya ketakutan, mereka juga menghindari menghadapi pertanyaan ini.
“Apa kau ingat? Orang itu...Pengenalan Kayaba Akihiko di awal permainan. Dia berkata bahwa NERvGear memperbolehkan pemutusan berjangka dua jam. Tapi alasannya adalah...”
“...Untuk memindahkan tubuh kita ke fasilitas kesehatan yang memadai...”
Asuna mengangguk begitu aku mengucapkan ini.
“Lalu beberapa hari kemudian, semuanya terputus selama kira-kira sejam, kan?”
Sesuatu seperti itu pasti terjadi. Aku telah melihat pada peringatan pemutusan dan khawatir apakah NERvGear akan membunuhku atau tidak dalam dua jam.
“Kupikir semuanya telah dipindahkan ke RS. Tak mungkin untuk merawat seseorang yang koma dalam rumah biasa selama bertahun-tahun. Lebih mungkin mereka memindahkan kita ke RS lalu menyambungkan kita kembali...”
“...Ya, rasanya kau benar...”
“Jika tubuh kita hanya terbaring di kasur, bertahan hidup hanya karena begitu banyak sambungan yang terpasang padanya...Aku pikir tubuh kita takkan selamanya aman dalam keadaan tersebut.”
Aku tiba-tiba dilingkupi ketakutan bahwa tubuhku mulai menghilang. Aku memeluk Asuna untuk mengonfirmasi keberadaan kami.
“...Dengan kata lain...entah kita menyelesaikan permainan ini atau tidak...akan selalu ada batas waktu...”
“...Dan batas waktu ini berbeda untuk tiap orang,,,Karena berbicara dengan «Sisi lain» adalah tabu, aku belum membicarakan ini dengan orang lain...tapi kau berbeda. Aku...AKu ingin menghabiskan seluruh hidupku di sisimu. Aku ingin berdua denganmu yang sebenarnya, menikah yang sebenarnya denganmu, dan tumbuh tua bersama-sama. Jadi...jadi...”
Dia tak bisa melanjutkan. Asuna mengubur wajahnya di dadaku dan meneteskan air mata. Aku pelan-pelan mengelus punggungnya untuk membantunya menyelesaikan kata-kata.
“jadi..kita tak punya pilihan selain bertarung saat ini...”
Ketakutanku tak benar-benar menghilang. Tapi bagaimana mungkin aku menyerah sekarang saat Asuna melakukan yang terbaik untuk membuka masa depan kami sambil berusaha begitu keras untuk menjaga dirinya agar tak runtuh.
Tak apa-apa—Pasti semanya baik-baik saja. Selama kita bersama, pasti akan---
Aku mengeraskan lenganku dan memeluk Asuna kuat-kuat untuk menghilangkan perasaan muram yang mengancam untuk menguasaiku.
Ada sebuah grup yang jelas-jelas terdiri dari pemain berlevel tinggi, menunggu di alun-alun gerbang teleport level 75 di Collinia. Aku menduga mereka pasti kelompok raja. Begitu aku dan Asuna melangkah keluar gerbang dan menuju mereka, mereka semua tutup mulut dan mengirimkan tatapan menusuk ke arah kami. Beberapa bahkan memberikan salam guild.
Aku berhenti melangkah karena keterkejutan menguasaiku. Tapi Asuna membalas salam mereka lalu mencolek sisiku.
“Hei, Kirito, kamu kini seorang pemimpin, jadi kau harus menyalami mereka dengan baik!”
“Apa...?”
Aku menyalami mereka dengan canggung. Aku telah ambil bagian dalam banyak kelompok raja hingga saat ini, tapi ini kali pertama aku mengundang begitu banyak perhatian.
“Hei!”
Seseorang menekanku di pundak, aku memutar badan dan melihat Cline, si pemakai katana, tersenyum di bawah bandananya. Yang mengherankan, tubuh besar Egil juga berdiri di sampingnya, dilengkapi penuh dengan kapak dua tangan di genggamannya.
‘Apa?!Kalian juga ikut?”
‘Mengapa kau terkejut!? Apa kau merendahkan kami!?”
Egil berteriak tak senang.
“Aku bahkan meninggalkan tokoku karena kudengar kalian dalam masa-masa sulit. Tapi ternyata kini kau tak menghargai pengorbananku, ini membuatku...”
Aku memukul lengan Egil begitu dia ngomong dengan sikap berlebihannya.
“Aku sangat memahami sentimenmu. Jadi kami bisa mengeluarkanmu saat kita berbagi barang, kan?”
Saat aku mengatakan itu, sang raksasa menggelengkan kepala botaknya dan menyatukan alisnya membentuk angka delapan (八).
“Kalau itu sih...”
Begitu suara bergetarnya memudar, Asuna dan Cline meledak dalam tawa secara bersamaan. Ini cepat menyebar ke pemain lainnya dan sepertinya memeras habis ketegangan semua orang.
Tepat pukul satu, beberapa pemain baru tiba di gerbang, Ada Heathcliff, dalam jubah merah dengan tameng berbentuk salib di tangan, Juga para petinggi KoB. Udara tegang menyeruak sekali lagi diantara para pemain begitu melihat para pendatang baru.
Jika kita hanya membandingkan level dan status, orang yang lebih tinggi dari aku dan Asuna mungkin hanya Heathcliff sendiri. tapi koordinasi memusatkan kekuatan mereka pada kerja sama. Selain warna guild yang merah-putih, zirah dan senjata mereka sangat berbeda, namun kekuatan ikatan diantara mereka jauh lebih tinggi dari unit «The Army» yang pernah kami lihat.
Sang Paladin dan keempat bawahannya melangkah lurus menuju kami, yang memisahkan kelompok yang berkumpul menjadi dua. Cline dan Egil terpaksa mundur beberapa langkah, sementara Asuna dnegan tenang berbalas salam dengan mereka.
Setelah berhenti, Heathcliff mengangguk pada kami sebelum berbicara kepada seluruh grup:
“Tampaknya semua orang sudah datang. Terima kasih. Kupikir semua sudah mengerti keadaan kita sekarang. Ini akan jadi pertarungan yang berat, tapi kupercaya bahwa kita akan menang karena kekuatan kalian. Kita akan bertarung demi kebebasan kita dari permainan ini---!”
Begitu Heathcliff berteriak dengan suara bertenaga, Pemain lainnya membalas dengan teriakan membahana mereka sendiri. Aku terkejut dengan karismanya yang menarik orang lain bagai magnet. Adalah mengejutkan melihat seseorang dengan kualitas kepemimpinan setinggi ini diantara para pemain keras yang biasanya kurang koordinasi sosial, atau mungkinkah dunia ini yang mengembangkan bakatnya? Aku membayangkan apa yang dilakukannya di dunia nyata...
Heathcliff memutar dan menghadapku seakan dia merasakan tatapanku, lalu berkata sambil tersenyum:
“Kirito-kun, aku berharap pada usahamu. Kuharap kau menggunakan «Dual Blades» sepenuh tenaga.”
Tiada beban maupun rasa takut terdengar dari suaranya yang lembut dan rendah. Seseorang tak bisa tidak kagum pada fakta bahwa Heathcliff bisa menjaga sikap kalemnya meski menghadapi pertempuran sulit di depan.
Setelah aku mengangguk dalam hening, Heathcliff berbalik pada para pemain dan mengangkat tangannya ke udara.
“Dengan ini, ktia mulai. Aku akan membuka sebuah koridor yang langsung mengarah pada daerah di depan ruangan si raja.”
Dia mengeluarkan sebutir kristal biru laut dari kantongnya saat berbicara, diiringi gumaman dan keterkejutan pemain lainnya.
Kristal-kristal teleport biasa hanya bisa memindahkan pengguna pada gerbang teleport kota tertentu, tapi barang yang dikeluarkan Heathcliff adalah sebutir «Kristal Koridor», yang bisa membuka sebuah gerbang teleport ke manapun yang ditandai pemain. Tak perlu disebutkan disini, bahwa itu adalah barang yang sangat berguna.
Tapi karena itu, ia juga sangat jarang dan tak dijual di toko-toko NPC Ia hanya bisa didapat dari peti harta karun labirin atau sebagai peninggalan monster-monster, jadi beberapa pemain tak mau menggunakannya meski mereka punya. Alasan para pemain menyuarakan keterkejutan mereka bukanlah karena melihat sebutir barang langka, tapi karena Heathcliff hendak menggunakannya.
Heathcliff mengangkat kristal tersebut, tak memedulikan tatapan pemain lalu berteriak:
“Koridor, buka.”
Kristal yang luar biasa mahal tersebut pecah dan sebuah topan cahaya biru muncul.
“Kini, semuanya, ikuti aku.”
Setelah dia menyapu pandangannya ke semuanya, Heathcliff melompat ke dalam cahaya biru, diikuti kibaran pakaian merahnya di belakang. Tubuhnya langsung ditelan cahaya itu dan menghilang dalam sekejap. Keempat bawahan KoB-nya mengikutinya tanpa henti.
Saat ini, banyak orang mulai berkumpul di sekitar plaza. Mereka pasti telah mendengar soal pertempuran raja dan keluar untuk perpisahan dengan kami. Para ksatria berjalan ke dalam cahaya satu demi satu di tengah-tengah teriakan penyemangat.
Aku dan Asuna dengan cepat menjadi satu-satunya yang tinggal. Kami saling memandang dan bertukar anggukan kecil sebelum berpegangan tangan dan melompat kedalam topan cahaya bersama-sama.
Setelah rasa pusing dari teleportasi berlalu, aku membuka mataku dan melihat kami sudah berada di lanirin. Ia merupakan koridor yang cukup luas, dengan dua baris pilar nan tebal dan sebuah gerbang raksasa di ujungnya.
Labirin lantai 75 dibangun dari sejenis obsidian yang agak transparan. Tak seperti labirn kasar dan mentah dari lantai-lantai bawah, batu-batu disini dipoles halus dan disusun berderet tanpa celah di antara mereka. Udaranya dingin dan lembab, dengan selapis tipis embun menyelubungi lantai.
Asuna merapatkan kedua lengannya ke badan seakan dia merasakan dingin lalu berucap:
“...Entah mengapa...aku benar-benar merasa tak enak...”
“Ya...”
Aku mengiyakan.
Dalam dua tahun hingga sekarang, kami sudah menyelesaikan 74 labirin dan mengalahkan monster raja dengan jumlah sama. Setelah mengumpulkan begitu banyak pengalaman, kami bisa secara kasar menebak kekuatan seorang raja hanya dengan melihat sarangnya.
Seluruh 30 pemain di sekitar kami membuka jendela mereka dan memeriksa perlengkapan mereka; Wajah mereka semua sangat serius.
Aku membimbing Asuna ke belakang sebatang tiang dan melingkarkan lenganku ke tubuh kecilnya. Ketegangan yang kutahan dari tadi kini menyembur karena pertempuran sudah dekat. Tubuhku bahkan gemetaran.
“Jangan khawatir.”
Asuna berbisik ke telingaku.
“Aku akan melindungimu.”
“Tidak...ini bukan karena aku takut bertarung.”
"Haha.”
Asuna tertawa kecil dan melanjutkan:
“Jadi...kau harus melindungiku juga, Kirito.”
“Ya...pasti.”
Aku memeluknya dengan lenganku sekali lagi sebelum melepasnya. Heathcliff, yang telah mengeluarkan perisai berbentuk salibnya, berbicara diiringi bunyi dentingan perlengkapannya.
“Apa semuanya siap? Kita tak punya info tentang pola kebiasaan raja. KoB akan bertanggung jawab menahan serangan musuh; Semua harus mengambil kesempatan ini untuk menganalisa pola serangan musuh dan membalasnya dengan tepat.”
Semua mengangguk dalam hening.
“Sekarang, saatnya beraksi.”
Kata Heathcliff lembut. Lalu dia berjalan penuh percaya diri ke pintu obsidian dan menempatkan tangannya di bagian tengah. Ini menyebabkan semua jadi sangattegang.
Aku menepuk bahu Cline dan Agil, yang keduanya berada di sampingku, dan berkata pada mereka saat mereka berbalik:
“Jangan mati.”
“Heh, khawatirkan saja dirimu sendiri.”
“Aku tak hendak mati sebelum aku dapat untung dengan barang-barang langka yang kudapat dari pertarungan hari ini.”
Saat mereka mengucapkan guyonan sombong mereka, pintu mulai terbuka dengan suara derikan berat. Seluruh pemain telah menyiapkan senjata mereka, jadi aku juga menghunus kedua pedang dari penggungku. Aku menatap sekilas Asuna, yang memegang rapier di tangan, lalu mengangguk padanya.
Heathclif yang terakhir mengeluarkan pedang dari perisainya. Dia lalu mengangkat tangannya tingi-tinggi ke udara dan berteriak.
“—Mulai bertarung!”
Lalu dia berjalan melalui gerbang yang terbuka lebar ke dalam ruangan, dengan semuanya mengikuti tepat di belakangnya.
Ruangan didalam berbentuk seperti kubah besar. Sepertinya sebesar arena duel aku dan Heathcliff. Tembok-tembok menjulang tinggi ke angkasa, melengkung tinggi di atas kepala kami. Tepat setelah kedua puluh tiga pemain masuk ruangan dan membentuk formasi---pintu di belakang kami berdebam menutup. Kini pintu itu tak mungkin terbuka kecuali entah rajanya mati atau kami disapu habis.
Seluruh kelompok kini hening beberapa lama. Meski kami terus mengamati lantai sekeliling, raja tetap tak muncul. Waktu mencekik tegang syaraf kami sementara detik demi detik perlahan berlalu.
“Hey---“
Tepat ketika seseorang tak dapat lagi menahan ketegangan dalam keheningan itu...
“Dari atas!!”
Asuna bereriak dari sampingku. Aku melihat ke atas dengan terkejut.
Di langit-langit kubah—ia di sana.
Begitu besar dan panjang.
Seekor kelabang-!?
Pikiran itu muncul dalam pikiranku begitu aku melihatnya. Panjangnya sekitar 10 meter. Tapi tubuhnya terbagi kedalam beberapa bagian yang lebih mengingatkanku pada tulang belakang manusia dibandingkan seekor serangga. Kaki-kaki tajam dari tulang terlihat menonjol dari tiap sambungan. Begitu aku menggeser pandanganku ke bagian bawah tubuhnya, bentuknya semakin menebal, berakhir pada sebuah tengkorak mengerikan. Itu bukan tengkorak manusia. di ujung tengkorak nan halus itu, ada dua pasang liang mata yang menghadap ke atas dengan api biru menyala di dalam. Rahangnya menonjol keluar dan berisi sebaris gigi tajam. Dua lengan raksasanya yang berbentuk sabit menempel pada kedua sisi tengkorak. Saat aku memusatkan pandanganku padanya, nama monster itu muncul dnegan kursor kuning: «Sang Pencabik tengkorak» ---si pembunuh pemburu berkerangka.
Pemain-pemain yang terkejut menonton kelabang rangka tersebut melata sepanjang langit-langit pada kaki-kakinya, tiba-tiba ia melebarkan kakinya---dan meloncat tepat kepada kami.
“Jangan hanya berdiri disana! Menyebar!!”
Suara tajam Heathcliff memotong udara nan beku. Para pemain akhirnya tersadar dan mulai bergerak. Kami buru-buru keluar dari daerah perkiraan jatuhnya.
Tapi ada 3 orang yang berada tepat dibawah daerah perkiraan yang sedikit telat. Mereka hanya berdiri di sama dan menengadah melihat ke atas seakan tak yakin kemana mereka harus bergerak.
“Kesini!”
Aku buru-buru berteriak. Ketiga pemain tersebut lalu sadar dari keterpakuannya dan mulai berlari menuju padaku---
Tapi tepat saat itu. si Kelabang telah mendarat di belakang mereka dan seluruh lantai berguncang keas. Ketiganya kehilangan keseimbangan karena itu, dan saat itulah si kelabang mengayunkan lengan kanannya—sebatang sabit tulang raksasa yang sepanjang orang, dan mengarah langsung pada mereka.
Ketiga pemain ditebas sekali pada punggung mereka dan langsung diterbangkan. HP mereka berkurang dengan sangat cepat selama mereka berada di udara---langsung melewati daerah kuning ke daerah bahaya merah---
“---!?”
Mereka semua mencapai 0, dan ketiga tubuh yang masih berada di udara opecah menjadi serpihan-serpihan yang tak terhitungd an tersebar. Efek suara kematian mereka saling bertabrakan.
“----!!”
Kudengar Asuna menahan napas disampingku. Aku dapat merasakan tubuhku kaku dan terkejut.
Mereka mati---dalam satu pukulan---?!
Dalam sistem SAO, yang digunakan baik dalam keahlian dan tingkatan, HP maksimum seseorang naik seiring tingkatannya, jadi tingkat yang lebih tinggi berarti lebih sulit dibunuh tak peduli keahlian bertarung seseorang. Kelompok disini hari ini hanya terdri dari pemain-pemain tingkat tinggi, jadi meskipun seorang raja, semestinya semua masih bisa menahan setidaknya satu serangan gabungan pendek---itu yang dipikirkan semuanya. . Namun hanya dalam satu pukulan---
“Ini...mustahil...”
Asuna bergumam dengan suara yang dipaksakan keluar.
Kelabang bertulang yang telah mengambil nyawa tiga orang dalam sekejap mengangkat tubuh bagian atasnya dan menyerbu kelompok pemain lain dnegan raungan nan keras.
“Ahhhh---!!”
Para pemain di arah itu berteriak panik. Sekali lagi, Sabit tulang terangkat tinggi ke udara.
Di saat kritis ini, seseorang meloncat tepat ke bawah sabit. Itu Heathcliff. Dia mengangkat tameng raksasanya dan menahan serangan itu, mengirimkan suara benturan yang memecah gendang telinga dan hujan percikan/
Tapi ada dua sabit. Dengan lengan kiri yang terus menyerang Heathcliff, ia mengangkat sabit kanannya dan mengayunkannya ke bawah pada para pemain yang terpaku.
“Sialan....!”
Aku berlari hampir tanpa sadar, dnegan cepat menolkan jarak seakan sedang terbang, dan menempatkan diriku tepat di depan sabit itu. Lalu aku menilangkan pedangku dan menahan serangannya, Kekuatan besar dari benturan mengenai badanku. Tapi---sabitnya tak berhenti. Dengan percikan yang keluar darinya, sabit itu mendorong mundur pedangku dan datang padaku.
Ini terlalu kuat---!
Saat itulah, sebuah pedang baru terbang dengan meninggalkan bekas cahaya putih dan mengenai sabit. Sebuah suara benturan bergema. Dengan sabit yang melemah, aku langsung mendorong dengan seluruh kekuatanku dan berhasil memaksa sabit tulang itu mundur.
Di sebelahku, Asuna melirik padaku dan berkata,
“Jika kita memukulnya secara bersamaan---kita bisa menahan serangannya! Jika itu kita, maka hal ini mungkin!!”
“Ok—ayo selesaikan ini!”
Aku mengangguk. Hanya dengan tahu Asuna disampingku memberikanku kekuatan tak terbatas.
Begitu sabit sekali lagi diayunkan secara horizontal pada kami, Baik aku maupun Asuna mengayunkan pada kanan bawah untuk menangkisnya. Pedang kami mengenai kepala sabit dengan selaras sempurna, dan kali ini sabit itu dipukul mundur.
Aku menguatkan suaraku dan berteriak:
“Kami akan menghentikan sabitnya! Yang lain serang sampingnya!”
Ini seakan suaraku akhirnya membebaskan semuanya dari semacam mantra. Para pemain berteriak, mengangkat senjata mereka, dan menyerbu tubuh kelabang bertulang itu. sejumlah pukulan menusuk tubuh musuh dengan dalam dan HP raja akhirnya sedikit berkurang.
Tapi langsung setelahnya, aku dapat mendengar jeritan beberapa pemain. Aku berjudi dengan melirik setelah membalas sabit, dan kulihat beberapa orang dipukul jatuh oleh tulang panjang mirip tombak di ujung ekor kelabang.
“Argh…!”
Aku mengeraskan gigitanku. Kami harus membantu, tapi aku dan Asuna, dan juga Heathcliff yang tengah menahan sabit kiri sendirian di sebelah sana sudah sibuk.
“Kirito...!”
Begitu Asuna bersuara, aku menatapnya.
---Tidak! Jika fokus kita buyar, kita akan kena!
---Ya, kau benar...ia datang lagi!!
--Tahan dengan gerakan memotong vertikal kiri keatas!
Kami saling berbicara hanya dengan bertukar lirikan dan menahan sabit dengan gerakan-gerakan yang tersinkronisasi sempurna.
Kami memaksakan diri untuk mengabaikan jeritan-jeritan yang dapat didengar dari waktu ke waktu dan berkonsentrasi menahan hantaman-hantaman musuh yang bertenaga. Yang luar biasa adalah, kami tak butuh berbicara ataupun saling melirik satu sama lain. Sekaan kami tersambung langsung.Musuh menyerang dengan begitu cepat sehingga tak meninggalkan ruang untuk bernapas, tapi kami masih bisa selalu membalasnya dengan mengaktifkan keahlian yang sama persis di saat yang bersamaan
Tepat setelahnya-sambil bertarung hingga setengah mati, aku mengalami perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini pengalaman yang sangat surealis—Seakan aku dan Asuna menyatu dalam satu tubuh dan mengayunkan satu pedang. HP kami kami terus berkurang sedikit demi sedikit karena getaran terusan setelah hantaman musuh yang kami tahan, tapi kami sudah tak memikirkan hal-hal semacam itu.

0 Response to "Sword Art Online Aincrad Chapter 21"

Poskan Komentar

Widget edited by super-bee
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme