Cari Blog Ini

Sword Art Online Aincrad Chapter 20

Pelampung yang terikat pada benang pancing belum bergerak satu kalipun. Rasa mengantuk menyerang kesadaranku sementara aku melihat tarian cahaya mentari yang terpantulkan dari riak air danau yang berkilauan.

Aku menguap lebar dan menarik benang pancingku. Hanya sebuah kail perak pada ujung benang yang bersinar di bawah cahaya mentari; umpan yang telah aku pasang di atasnya telah hilang.
Lebih dari sepuluh hari telah berlalu semenjak kami pindah ke lantai dua puluh dua. Untuk mengumpulkan makanan setiap hari, aku telah menghapus teknik pedang dua tanganku , yang baru aku latih dengan singkatdahulu, dan menggantinya dengan teknik memancing. Aku mulai meniru Taikoubou [1] dalam memancing. Tetapi untuk suatu alasan tertentu, aku tidak menangkap apapun. Nilai latihannya baru saja melewati angka 600, jadi aku tidak mengharapkan tangkapa besar apapun, tetapi aku berpikir bahwa aku seharusnya telah menangkap sesuatu sekarang. Malahan, aku hanya menghabiskan hari demi hari membuang kotak-kotak umpan yang aku beli di desa.
"Gah, hal ini sangat menjengkelkan...”
Aku menggumamkan keluhan-keluhanku, melempar joran pancing kesamping, dan merebahkan diriku ke tanah. Angin yang bertiup diatas air sedingin es, tetapi mantel yang dibuat Asuna dengan teknik menjahitnya membuatku tetap hangat. Asuna masih dalam tahap melatih teknik itu, jadi mantel yang dibuatnya masih belum sebaik pakaian yang dijual di toko-toko NPC. Tetapi karena mantelnya dapat digunakan dan membuatku tetap hangat, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Sekarang adalah «Bulan dari Cypress» di dalam Aincrad, yang berarti sekarang adalah bulan November di Jepang. Walaupun sekarang sudah hampir memasuki musim dingin, memancing di SAO tidak memiliki hubungan apapun dengan musim. Mungkin hal ini sebenarnya karena aku telah menghabiskan semua keberuntunganku untuk mendapatkan istriku yang cantik.
Sementara aku memikirkan hal ini, keseluruhan diriku dipenuhi dengan kebahagiaan, dan sebuah senyum lebar tergambar di wajahku. Lalu tiba-tiba, sebuah suara mencapai telingaku.
"Bagaimana kabarmu?”
Aku melompat kaget dan melihat seorang pria berdiri disana saat aku berbalik.
Tubuhnya terbungkus dengan pakaian tebal, termasuk dengan sebuah topi dengan penutup telinga, dan memegang joran pancing di kedua tangannya sepertiku. Tetapi hal yang mengejutkan adalah usianya. Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, dia sepertinya paling tidak berusia lima puluh tahun. Kedua mata dibalik kacamata berbingkai logam menunjukkan usia seorang yang sudah senior. Diantara para pecandu game berat di dalam SAO, sangat jarang melihat seseorang yang sangat tua. Sebenarnya, aku belum pernah melihat seorangpun sebenarnya. Mungkinkah-?
“Aku bukan seorang NPC.”
Dia tersenyum kecut seakan-akan dia telah membaca pikiranku, dan kemudian secara perlahan melangkah menuruni lereng danau.
“M-Maaf. Aku hanya heran...”
“Tidak, tidak apa-apa. Hal itu dapat dimengerti. Aku kemungkinan besar adalah pemain paling tua di sini.”
Tubuh sehatnya terayun sementara dia tertawa “wa-ha-ha” sepenuh hati.
“Permisi.”
Dia engatakan hal itu sementara dia duduk di sampingku. Dia mengambil sebuah kotak umpan dari pinggulnya, lalu dengan canggung membuka sebuah pop-up menu, mengambil joran pancingnya, dan menaruh umpannya di sana.
“Namaku adalah Nishida. Aku adalah seprang pemancing disni. Di Jepang, aku bekerja sebagai kepala bagian perawatan dari sebuah perusahaan bernama Tohto Broadband Connection. Maaf aku tidak membawa kartu nama bisnisku.
Dia tertawa lagi.
“Ah…”
Aku hampir dapat menebak alasan mengapa dia berada di dalam permainan ini. Tohto adalah sebuah perusahaan operator network yang bekerja sama dengan Argas. Merekalah yang bertanggung jawab untuk mengurus network yang menghubungkan server-server SAO.
“Namaku Kirito. Aku pindah kesini dari lantai atas beberapa saat yang lalu. Nishida oji-san... pasti sedang... merawat koneksi network SAO...?”
“Aku adalah yang bertanggung jawab atas hal itu.”
Nishida mengatakan hal itu sembari mengangguk. Aku melihatnya dengan perasaan yang rumit. Hal ini berarti dia telah terlibat dalam semua ini disini karena pekerjaannya.
"Haha, para atasanku berkata bahwa tidak perlu masuk ke dalam permainan, tetapi aku tidak dapat merasa tenang sepenuhnya sebelum aku melihat hasil pekerjaanku dengan mataku sendiri, dan karena kekhawatiran orang tua sepertiku, aku menjadi seperti ini.”
Dia mengayunkan joran pancingnya dengan gerakan yang luar biasa halus saat dia mengatakan hal ii, dan seseorang dapat mengetahui bahwa dia sudah memiliki professional mastery dari seorang pemancing yang ahli. Dia juga sepertinya senang bercakap-cakap, karena dia meneruskan percakapannya tanpa menunggu balasan dariku:
"Selain aku, ada sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang tua lain yang berada di sini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka hidup dengan aman di Starting City, tetapi aku jauh lebih menikmati hal ini dibandingkan dengan hanya makan tiga kali sehari.”
Dia mengangkat joran pancingnya sedikit.
"Aku telah tanpa henti mencari untuk mencari sungai-sungai dan danau-danau yang bagus, dan pada akhirnya naik hingga ke tempat ini.”
“Oh, benarkah... Yah, hampir tidak ada monster di lantai ini.”
Nishida hanya tersenyum akan apa yang aku katakan tanpa menjawab. Lalu dia bertanya kepadaku:
“Lalu, apakah ada tempat yang bagus di lantai atas?”
Di bertanya.
“Hmmm… Yah, lantai enam puluh satu seluruhnya adalah danau, sebenarnya, lebih mirip laut, dan mereka berkata bahwa seseorang dapat menagkap ikan yang besar di sana.”
“Ohh! Aku lebih baik pergi ke sana suatu saat.”
Pada saat ini, pelampung dari joran pancingnya mulai tenggelam dengan cepat. Nishida tidak membuang waktu untuk menariknya. Sepertinya level teknik memancingnya cukup tinggi, begitu pula dengan kemampuan sebenarnya untuk memancing.
“Woah, besar sekali!”
Sementara aku memaksakan tubuhku untuk bersandar ke depan, Nishida dengan tenang menggulung benang pancingnya dan dengan cepat menarik ikan biru yang berkilauan itu. Ikan itu menggelepar di tangannya beberapa kali lalu menghilang ke dalam inventory-nya.
“Luar biasa...!”
Nishida tersenyum malu sementara dia mengangkat kepalanya untuk menjawab:
“Bukan apa-apa. Yang perlu kamu lakukan di sini hanyalah menaikkan teknik memancingmu.”
Lalu dia menambahkan hal ini sementara dia menggaruk kepalanya:
“Tetapi, walaupun aku dapat menangkapnya, aku masih tidak tahu bagaimana cara memasaknya dengan baik... Aku ingin memakan sashimi atau ikan panggang, tetapi aku tidak dapat melakukan apapun tanpa kecap.”
“Ah… benar juga…”
Aku ragu-ragu untuk beberapa saat. Kami pindah ke sini untuk menghindari orang lain, tetapi aku berpikir bahwa orang ini tidak akan tertarik dengan rumor dan gosip.
“…Aku tahu mengenai sesuatu yang terasa mirip sekali dengan kecap...”
“Apa!?”
Nishida menyandar lebih dekat dengan kedua matanya bersinar dibalik kacamatanya.

Saat Asuna menyambut kepulanganku dan melihat Nishida, kedua matanya terbelalak kaget, namun kemudian dia tersenyum dan berkata:
“Selamat datang. Seorang tamu?”
“Yeah, dia adalah Nishida oji-san, seorang pemancing. Dan-“
Suaraku melemah sementara aku berbalik melihat Nishida dan tidak yakin bagaimana memperkenalkan Asuna. Lalu, Asuna tersenyum kepada pemancing tua itu dan memeperkenalkan dirinya sendiri:
“Aku adalah istrinya, Asuna. Selamat datang ke rumah kami.”
Dia mengangguk dengan penuh percaya diri.
Nishida menatap Asuna dengan mulut tebuka. Asuna sedang memakai sebuah rok panjang polos, sebuah kemeja rami dengan celemek, dan sebuah kerudung di atas kepalanya. Dia terlihat sangat berbeda dengan citranya sebagai seorang pejuang yang mengesankan sebagai seorang anggota KOB, tetapi kecantikannya tidak berubah.
Setelah berkedip beberapa kali, Nishida akhirnya tersadar kembali dan mengatakan:
“Ah, ahh, aku minta maaf. Aku telah terpesona untuk sesaat. Namaku Nishida. Maaf mengganggumu seperti ini..”
Dia menggaruk kepalanya dan tertawa.
Asuna menerapkan semua keahlian memasaknya yang mengesankan kepada ikan besar yang telah ditangkap Nishida, dan menaruhnya di meja setelah mengubahnya menjadi sashimi dan ikan panggang dengan kecap sebagai bumbunya. Sementara aroma dari kecap buatan tangan tercium di dalam rumah, Nishida melebarkan lubang hidungnya dengan rasa senang tampak di wajahnya.
Ikan itu lebih terasa seperti ikan yellowtail dengan tambahan sejumlah minyak dibandingkan dengan rasa seperti kan air tawar. Menurut Nishida, kamu memerlukan setidaknya 950 poin dalam memancing sebelum kamu dapat menangkapnya. Setelah sebuah percakapan pendek, kami bertiga terfokus untuk memakan ikan itu dengan sumpit kami.
Piring-piringnya telah kosong dalam sekejap mata, dan Nishida menghela napas dengan ekspresi kebahagiaan saat dia memegang secangkir teh panas dengan kedua tangannya.
“…ah, makanan tadi sangat memuaskan. Terima kasih. Untuk berpikir bahwa kecap ada di dunia ini.”
“Oh, kecap ini buatan tangan. Kamu dapat membawa beberapa denganmu bila kamu suka.”
Asuna mengambil sebuah botol kecil dari dapur dan memberikannya kepada Nishida. Aku berpikir bahwa ini adalah ide yang bagus untuk tidak memberitahukannya resep dari kecap itu. Asuna lalu tersenyum dan berkata kepada Nishida yang berterima kasih:
"Jangan khawatir akan hal ini; anda juga membawakan kami ikan yang baik.”
Dia lalu melanjutkan perkataanya:
“Kirito-kun belum pernah menangkap apapun.”
Pada serangan mendadak ini, aku hanya menyesap tehku dalam keheningan sebelum menjawab:
“Danau-danau di area ini semua terlalu susah.”
“Tidak, tidak juga. Hanya danau tempat Kirito-san memancing saja.”
“Eh…”
Apa yang Nishida katakan membuatku tidak dapat berkata-kata. Asuna memegang perutnya dan mulai tertawa tanpa henti.
“Kenapa mereka mengaturnya seperti itu...?”
“Sebenarnya, di danau itu...”
Nishida menurunkan nada suaranya sebelum melanjutkan, jadi Asuna dan aku menyandar ke depan.
“Aku rasa dewa setempat tinggal disana.”
“Dewa setempat?”
Sementara suara Asuna dan aku bergema bersama, Nishida tersenyum, membetulkan kacamatanya, dan kemudian melanjutkan perkataannya:
“Pada item shop di desa, disana ada sebuah umpan yang jauh lebih mahal dari umpan yang lain. Aku penasaran mengenai kemampuannya, jadi aku memutuskan untuk memebelinya sekali dan mencobanya.”
Aku menelan ludah karena naluri.
“Tetapi aku tidak dapat menangkap apapun dengan umpan itu. Setelah mencobanya di berbagai tempat, aku akhirnya berpikir untuk mencoba pada danau yang sulit itu.”
“Apakah, apakah kamu menangkap sesuatu...?”
“Sebenarnya, sesuatu menangkap umpannya.”
Nishida mengangguk dalam, dan raut wajahnya menjadi raut wajah yang menunjukkan penyesalan:
“Tetapi aku tidak dapat menariknya dengan kekuatanku dan pada akhirnya kehilangan joran pancingku karena itu. Aku hanya berhasil melihat bayangannya dalam saat-saat terakhir. Hal itu tidak hanya besar, kamu dapat memanggilnya sebuah monster, tetapi dalam arti lain dengan monster yang muncul di padang.”
Dia membuka lebar kedua tangannya. Hal ini mungkin adalah alasan di balik senyumnya yang penuh arti ketika aku berkata, “Hampir tidak ada monster di lantai ini.”
“Uwa, aku ingin melihatnya!”
Asuna berseru dengan kedua matanya berkilauan. Lalu, Nishida bertemu pandang denganku dan berkata:
“jadi aku memiliki sebuah usulan— apakah kamu memiliki kepercayaan diri dengan strength stat-mu Kirito-san...?”
“Yah, kelihatannya tidak apa-apa...”
“Lalu bagaimana bila kita memancingnya bersama? Aku akan menahannya hingga dia menggigit umpannya dan kemudian menyerahkan sisanya kepadamu.”
“Hmm, jadi kita akan melakukan «Switch» sementara memancing... apakah hal itu mungkin...?”
Aku memiringkan kepalaku ke samping.
“Mari kita coba, Kirito-kun! Hal ini kelihatannya menarik!”
Asuna mengatakan hal ini dengan kata “bersemangat” tertulis jelas di wajahnya. Tetapi, tidak salah jika aku juga agak tertarik dengan hal ini.
“Lalu mari kita segera mencobanya.”
Ketika aku menjawab, sebuah senyum tersebar di wajah Nishida.
"Itu baru semangat, , wa-ha-ha."

Malam itu.
Setelah berseru, “Dingindingin,” Asuna merangkak masuk ke tempat tidur, lalu merapatkan tubuhnya denganku dan membuat suara tanda kepuasan hati. Dia berkedip dengan enggan dan kemudian tersenyum seakan-akan dia baru saja memikirkan sesuatu.
“… ada banyak sekali orang-orang yang berbeda di sini.”
“Dia adalah orang yang menarik,bukan?”
“Yeah.”
Asuna kemudian tiba-tiba menarik senyumnya dan menggumam:
“Hingga saat ini, aku hanya bertarung di lantai atas. Aku telah lupa sama sekali bahwa di sini juga banyak orang yang menjalani kehidupan normal…”
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kita adalah seseorang yang istimewa; tetapi sejak kita berada pada level yang cukup tinggi untuk bertarung di garis depan, aku rasa hal ini juga berarti kita memiliki sebuah kewajiban kepada mereka.”
“…Aku tidak pernah memikirkan mengenai hal ini seperti itu… Aku selalu merasa bahwa menjadi lebih kuat adalah hanya sebuah jalan untuk bertahan hidup.”
“Aku merasa bahwa banyak orang akan mulai bergantung kepadamu mulai sekarang. Tentu saja aku juga termasuk.”
“…Tetapi dengan kepribadianku, mendengar ekspektasi semacam ini hanya membuatku ingin melarikan diri.”
“Oh kamu ini.”
Sementara Asuna mencibir tidak puas, aku membelai rambutnya dan berharap bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut sedikit lebih lama. Demi Nishida dan pemain lainnya, kami harus kembali ke garis depan pada titik tertentu. Tetapi setidaknya untuk sekarang-
Berdasarkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Egil dan Cline kepadaku, aku tahu bahwa mereka sedang kesulitan untuk menyelesaikan lantai tujuh puluh lima. Akan tetapi, aku percaya dari lubuk hatiku yang terdalam, bahwa hal yang paling penting untukku sekarang adalah kehidupan ini bersama Asuna.
3 hari kemudian, Nishida memberitahu kami pagi-pagi bahwa dia akan memancing dewa setempat. Sekitar 30 orang akan ada disana untuk menonton, karena sepertinya dia telah memberitahu teman-teman pemancingnya soal ini.
“Ini sangat mengganggu. Asuna...apa yang harus kita lakukan?”
"Hm~mmm..."
Sejujurnya, kami tak begitu senang dengan ini. Kami harus kesini untuk bersembunyi dari para penyebar isu dan penggemar Asuna, jadi kami agak enggan kalau harus tampil di depan banyak orang.
“Bagaimana kalau begini?!”
Asuna mengumpulkan rambutnya dan mendorongnya ke atas. Lalu dia menutupi wajahnya hingga mata dengan syal besar. Tak berhenti disitu, dia memencet beberapa tombol di jendela menunya dan mengenakan jaket panjang nan tawar.
“Y-yah, Baguslah. Kau terlihat seperti istri petani beneran."
“...Apa itu pujian?”
“Tentu saja. Kalau aku sih, mereka takkan mengenaliku selama aku tak memakai perlengkapan perang.”

Sebelum matahari terbit, aku berjalan keluar rumah dengan Asuna, yang membawa keranjang piknik kami. Dia bisa saja memanggilnya keluar saat kami tiba disana, tapi dia bersikeras ini bagian dari penyamaran.
Hari ini termasuk hangat, mengingat ini hari-hari awal musim dingin. Setelah berjalan melalui hutan pinus raksasa selama beberapa saat, kami akhirnya bisa melihat air yang berkilauan diantara batang-batang pohon. Banyak orang yang sudah berkumpul disana. Begitu aku menghampiri dengan segan-segan, seorang dengan figur badan yang dikenal melambai pada kami sambil terbahak-bahak.
“Wa-ha-ha, senang rasanya kita dapat cuaca baik hari ini!”
“Hai, Nishida oji-san.” [1]
Aku dan Asuna menganggukkan kepala. Dia menceritakan pada kami bahwa kumpulan orang-orang disini dari berbagai umur dan kelompok adalah anggota dari guild memancing yang dijalankan Nishida. Kami menyalami semuanya dengan tegang, tapi sepertinya tiada yang mengenali Asuna.
Menyisihkan hal itu, Nishida ojiisan jauh lebih aktif dari yang kubayangkan. Dia pasti seorang pemimpin kelompok yang baik dalam perusahaannya. Suasananya sudah panas, karena mereka sudah mengadakan lomba memancing sebelum kedatangan kami.
“Eh~jadi, Acara utama hari ini akhirnya dimulai!”
Nishida mengumumkannya keras-keras sambil berjalan menuju kami dengan pancingan panjang di tangan, dan para penonton bersorak kegirangan. Kulihat pancingan yang dibawanya. Mataku menelusuri pancingan dengan pikiran kosong sebelum benda di ujungnya mengejutkanku,
Yang ada di ujungnya adalah kadal, dan ukurannya sangat besar. Panjangnya selengan-atas orang dewasa. Kulit hitam-merahnya yang terlihat beracun berkilat seakan menegaskan kesegarannya.
“Hiii,---“
Asuna bahkan menyadarinya lebih telat daripadaku, dan wajahnya membeku sambil mundur beberapa langkah darinya. Jika ini umpannya, apa yang akan kita berusaha tangkap pasti luar biasa.
Tapi sebelum aku sempat bertanya, Nisihida menghadap ke danau dan mengangkat pancingannya. Dengan teriakan pendek,dia mengayunkannya dengan gerakan yang bagus, dan kadal besar membentuk sebuah lengkungan di udara sebelum jatuh ke air dengan jebyur yang keras.
Memancing tak perlu waktu tunggu dalam SAO. Begitu kau melempar umpan ke air, entah ikan mengambil umpan dalam beberapa detik, atau kau kehilangan umpan. Kami menelan ludah tanpa sadar saat menonton benang tenggalam perlahan-lahan.
Setelah beberapa saat, pancingan bergerak-gerak. TApi Nishida tak bergerak seinci pun.
“I-ia kena, Nishida-san!”
“Masih terlalu pagi!”
Di belakang kacamata Nishida, sepasang mata yang biasanya mencerminkan kakek berhati hangat bercahaya. Nishida terus melihat ujung pancingan yang bergerak-gerak tanpa bergerak sedikitpun. Lalu pancingannya bergerak makin keras.
“Sekarang!”
Nishida menarik tubuh kecilnya mundur dan menarik pancingan dengan seluruh badan. Aku Bisa mengatakan talinya benar-benar tegang hanya dengan melihatnya, yang juga memberikan efek suara tang-tang.
“Ia mengambil baitnya! Aku percayakan sisanya padamu!”
Aku dengan hati-hati mengambil pancingan yang diserahkan Nishida, tapi ia tak bergeser sedikitpun. Rasanya bagai kail termakan sesuatu yang ditanam ke tanah. . Aku melihat balik pada Nishida, khawatir apa benar ikannya sudah menggigit, lalu dalam sekejap mata—
Talinya mulai tertarik kedalam air dengan kuat secara tiba-tiba.
“Ahhh!”
Aku cepat-cepat menancapkan kaki ke tanah dan menariknya ke atas lagi. Pengukur kekuatan-yang-dipakai dengan cepat menembus mode normal.
“A-apa baik-baik saja untuk menegangkannya?”
Tanyaku pada Nishida karena khawatir pada ketahanan pancingan.
“Ini kualitas tertinggi! Kau bisa menariknya sekuat yang kau mau!”
Nishida mengangguk, wajahnya sudah merah saking bergairahnya. Aku membenarkan pegangan pada pancingan lalu menariknya sekuat tenaga. Pancingannya bengkok di tengah dan membentuk U besar. Begitu tingkat pemain naik, mereka bisa memilih untuk meningkatkan kekuatan atau deksteritas.[2] Pengguna kapak seperti Egil akan meilih kekuatan, sementara pengguna rapier macam Asuna akan fokus pada deksteritas.
Meski aku seorang pengguna pedang biasa dan meningkatkan keduanya, pilihan pribadiku cenderung memilih deksteritas sedikit di atas kekuatan.
Tapi sepertinya aku memenangkan tarik tambang ini karena levelku sendiri sudah sangat tinggi. Aku perlahan melangkah mundur, terus memaksa si besar itu keluar air.
“Ah, Aku bisa melihatnya!!”
Asuna mencondongkan badan ke air dan menunjuknya. Aku tengah melangkah mundur dan menjauh dari danau jadi aku tak bisa memeriksanya. Para penonton makin ribut dan berebut untuk melihat ke air, yang dengan cepat semakin dalam selepas pinggirnya. Aku tak bisa menahan kepenasaranku dan memusatkan seluruh kekuatanku untuk menarik pancingan.
“...?”
Tiba-tiba, sesuatu mengejutkan seluruh penonton yang dari tadi mengerubungi air. Setiap orang mengambil beberapa langkah mundur.
“Ada yang salah...?”
Bahkan sebelum aku selesai berbicara, mereka berbalik dan kabur. Bahkan Asuna dan Nishida berlari ke belakangku dari kedua sisi dengan wajah pucat. Aku baru saja hendak berbalik kebelakang untuk melihat mereka ketika – beban tanganku terangkat dan aku terjatuh dengan punggung di bawah.
Ah, apa talinya putus!?
Tepat ketika aku berpikir begitu, aku membuang pancingan dan berlari menuju danau, Saat itu, permukaan air yang berkilauan tiba-tiba menggelembung naik,
“Eh-!?”
Aku terpaku di tempat dengan mata terbelabak, dan saat itulah kudengar suara Asuna dari kejauhan :
“Kiritooo—itu berbahaya---!!!”
Saat aku berbalik, kulihat Asuna, Nishida, dll sudah naik ke tembok yang berdiri di ujung danau, yang cukup jauh dariku. Aku dapat mendengar air bergebyur-gebyur liar dibelakangku dan aku akhirnya mulai memahami keadaan. Lalu, dengan rasa tak enak, aku berbalik.
Ikannya berdiri.
Makhluk itu lebih tepat mirip seekor ikan raja <coelacanth, http://en.wikipedia.org/wiki/Coelacanth</ref>, persilangan ikan dengan kadal, tapi yang ini lebih cenderung ke sisi kadal. Ia berdiri di sana di rerumputan dengan enam kaki kuatnya dan memandnag ke bawah padaku, sedangkan air di tubuhnya jatuh bagai air terjun.
Aku berkata “memandang ke bawah” karena ini setidaknya setinggi 2 meter. Mulutnya yang tampak bisa menelan sapi bulat-bulat, berada sedikit di atas kepalaku dengan kaki kadal yang biasa kukenal terjulur keluar.
Dari kedua sisi makhluk berkepala ikan purba, dua mata seukuran bola basket bertemu dengan milikku. Sehbuah kursor kuning muncul secara otomatis untuk menandainyas ebagai monster.
Nishida sudah bilang pada kami bahwa dewa setempat dari danau ini adalah seekor monster dengan rasa beda dari yang berada di padang-padang.
Bagaimana ini berbeda? Si ini adalah seekor monster dalam tiap huruf kata-kata.
Aku memaksakan tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Lalu aku berbalik dan segera terbirit-birit. Ikan raksasa dibelakangku meraung menggelegar dan mulai mengikutiku dengan langkah yang menggetarkan bumi.
Aku memaksa stat deksteritasku hingga batas dan berlari seakan aku terbang. Aku mencapai Asuna dalam beberapa detik dan mengeluh keras-keras :
“I-itu curang! Kabur sendirian!!”
“Uwa.inibukansaatnyamengatakanituKirito!!”
Aku berbalik dan melihat ikan raksasa berlari menuju kami dengan kecepatan yang mengagumkan meski ukurannya besar.
“Ooh, ia berlari di darat...jadi ini dipnoan...? [3]
“Kirito-san, ini bukan saatnya mengatakan hal tak guna semacam itu!! kita harus kabur cepat-cepat!!”
Kali ini Nishida yang berteriak ketakutan. Lusinan penonton kaget dengan keadaan, dan beberapa dari mereka terduduk di tanah dengan wajah kosong.
“Kirito, apa kau membawa senjatamu?”
Kata Asuna sambil mendekatkan kepalanya ke sebelahku. Yah, bakal sulit untuk membuat semuanya kabur dalam situasi seperti ini---
“maaf, aku tak...”
“Oh, baiklah, Berarti Aku tak punya pilihan lain...”
Asuna menggelengkan kepala sambil berbalik menghadapi ikan raksasa yang mendekati kami. Dia dengan cepat membolak-balik menu dengan tangan nan ahli.
Dengan Nishida dan penonton lainnya menonton sambil terkejut, Asuna melepas jubah dan syal dengan punggung menghadap kami. Rambut coklat terangnya yang berkilauan oleh matahari menari liar di angin.
Meski dia hanya mengenakan rok panjang berwarna rumput dan kemeja dari kain hemp, sebuah rapier bersinar di sisi kiri pinggangnya bagaikan sebuah cermin. Dia menghunusnya dengan tangan kanan, dan pedang itu mengeluarkan bunyi ring-ring bersamaan dengan menunggunya Asuna untuk kedatangan ikan besar itu.
Nishida yang berdiri di sampingku, akhirnya tersadar dan menggoyangkan lenganku sambil berteriak:
“Kirito-san, I-istrimu dalam bahaya!!”
“Tidak, kita biarkan saja dia menangani ini.”
“Apa kau bilang!? ji-jika kau itu katamu maka aku...”
Dia menjambret sebuah pancingan dari temen yang terdekat dan bersiap berlari ke Asuna dengan wajah ngeri. Aku harus cepat-cepat menghentikan pemancing tua ini.
Ikan raksasa itu tak melambat sedikitpun. Ia membuka mulut besarnya, dimana di sana berbaris gigi tajam yang tak terhitung, dan melemparkan seluruh badannya pada Asuna seakan hendak menelannya bulat-bulat.
Asuna memutar sisi kiri badannya menjauh dari ikan itu dengan tangan kanan bergerak cepat keluar bersama sekilat cahaya putih di belakangnya.
Sebuah kilatan bercahaya yang membutakan menyemburat dari mulut ikan dengan efek suara ledakan. Ikan itu terlempar tinggi ke udara, tapi Asuna bahkan belum bergerak dari tempatnya.
Meski ukuran besar monster itu menimbulkan rasa takut, aku telah mengira levelnya tak mungkin begitu tinggi. Tak mungkin seekor monster dari lantai bawah, terutama yang dari acara yang berhubungan dengan memancing, bisa begitu kuat. Lagipula, SAO adalah permainan yang menjaga pola normal permainan online.
Ikan itu jatuh ke tanah dengan keras, HP-nya berkurang drastis oleh serangan Asuna. Lalu, Asuna dengan tanpa ampun melancarkan rangkaian serangan beruntun yang menunjuukan gelarnya «Flash».
Nishida dan penonton lainnya menonton tanpa berkatah sepatah kata pun pada Asuna yang mengaktifkan keahlian satu per satu sambil melangkah ringan seakan tengah menari. Apa kecantikan Asuna atau kekuatannya yang memesona mereka? Aku pikir mungkin keduanya.

Begitu Asuna mengayunkan pedangnya dengan aura yang menelan segala yang berada di sekitarnya, dia melihat HP lawannya telah berada pada daerah merah dan melompat kebelakang untuk memperlebar jarak di antara mereka. Setelah mendarat, dia langsung maju menyerang. Dia berlari menuju ikan itu sambil meninggalkan berkas cayaha di belakangnya bagai komet. ini adalah salah satu keahlian tertinggi rapier «Flashing Penetrator».
Dengan efek suara yang mirip ledakan sonik, komet itu menembus ikan dari mulut hingga ekor. Begitu Asuna mengerem untuk berhenti, monster raksasa di belakangnya terpecah menjadi jutaan serpihan cahaya yang tersebar. Ada suara benturan keras yang menciptakan riakan besar di permukaan danau.
Asuna menyarungkan rapiernya dengan sebuah “cling” dan berjalan pada kami seakan tak terjadi apa-apa. Nishida dan nelayan lainnya hanya bisa membuka mulut menganga lebar, membeku di tempat.
“Hei, kerja bagus.”
“Ini tak adil, membuatku bertarung sendirian. Kau nanti akan membeli makan siang.”
“Uang kita sekarang berupa data bersama.” [4]
“Oh, benar...”
Selama Asuna dan aku meneruskan percakapan santai kami, Nishida akhirnya bisa mengejapkan mata dan membuka mulutnya.
“...ah, itu snagat mengejutkan... Nyonya, kau, kau benar-benar kuat. Ini mungkin tak sopan, tapi seberapa tinggi levelmu...?"
Asuna dan aku saling memandang. Berada di topik ini terlalu lama bakal berbahaya untuk kami.
“Se-sebelum itu, lihat, ikan itu menjatuhkan suatu item.”
Asuna memencet beberapa tombol di layar dan sebuah pancingan perak muncuk di tangannya, Karena seekor monster acara yang menjatuhkannya, sepertinya bisa dipastikan ini benda langka yang tak dijual.
“Oh, ooh, ini...!?
Nishida menerima pancingan itu dengan mata berbinar. Seluruh penonton juga tertarik. Tepat saat kupikir aku sudah berhasil melalui bahaya ini dengan aman...
“Apa...apa kau Asuna dari Ksatria Darah...?”
Seorang pemain muda mengambil beberapa langkah mendekat dan menatapnya penuh intens. Lalu wajahnya mencerah.
“Yap, itu memang kau! Aku bahkan punya gambarnya!!”
“Ah..”
Asuna memaksakan dirinya tersenyum dan mengambil beberapa langkah mundur. Para penonton menggandakan kegairahan mereka.
“Ini, ini sebuah kehormatan! Untuk melihat Asuna san bertarung dari dekat...Oh ya! Bisa-bisakah kau memberikanku sebuah tanda ta...”
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berbicara lalu membolak-balik pandangannya antara aku dan Asuna beberapa kali. Akhirnya dia menggumamkan sesuatu dengan wajah terkejut:
“Apa...apa kalian berdua telah menikah...?”
Kini giliranku memaksakan diri untuk tersenyum. Bersamaan dengan tersenyumnya kami yang dibuat-buat sambil berdiri di tempat, teriakan kemarahan meraung di sekitar kami, Hanya Nishida yang terus mengejap-ngejapkan mata tanpa mengerti apa yang tengah berlangsung.
Bulan madu rahasia kami berakhir seperti ini hanya dalam dua minggu. Tapi mungkin kami harus berpikir bahwa kami beruntung untuk mengambil bagian dalam acara yang menyenangkan di akhir.
Malam itu, kami menerima sebuah pesan dari Heathcliff yang meminta kami mengambil bagian dalam pertarungan melawan raja lantai 75.

Paginya.
Aku duduk di ujung kasur dan memandangi lantai sedangkan Asuna yang selesai bersiap-siap, berjalan mendekat dengan sol besi bootnya berclang dengan tanah.
“Hei, kau tak bisa terus begini.”
“Tapi ini baru dua minggu.”
Aku menjawab dengan sikap kekanak-kanakan dan menengadahkan kepalaku. Tapi aku tak bisa membantah bahwa memandangi Asuna dalam seragam Ksatria merah-putihnya untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini sangat menarik.
Karena kami meninggalkan guild untuk sementara, kami bisa saja menolak permintaan ini. Tapi baris terakhir pesan, dimana “beberapa orang sudah tewas,” mengganggu pikiran kami.
“Yah, kita sebaiknya pergi untuk setidaknya mendengar apa yang terjadi. Ayo, sudah waktunya!”
Begitu dia menepukku di punggung, akhirnya aku bangkit dengan enggan dan membuka layar peralatan. Karena saat ini kami bukan bagian dari guild, aku mengenakan jaket kulit hitam dan seset baju pelindung minimalis, lalu menyimpan dua pedang di punggung dengan dua bilahnysa saling bersilangan. Beban berat di punggungku seperti mengeluhkan bahwa mereka ditinggalkan di inventori selama beberapa lama. Dengan gerakan cepat, aku menghunus mereka perlahan lalu menyarungkan mereka kembali; sebuah suara logam tinggi dan jernih bergema di kamar.
“Yah, ini penampilan yang paling cocok bagimu.”
Asuna tersenyum dan memeluk lengan kananku. Aku melihat ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal pada rumah baru kami, yang akan ditinggal jauh untuk beberapa lama.
“...Ayo kita cepat selesaikan ini lalu segera kembali.”
“Ya!”
Kami saling memandang dan menganggu. Kami membuka pintu dan melangkah keluar menuju udara menusuk musim dingin.
Di plaza gerbang lantai 24, kami menemukan Nishida menunggui kami dengan sebatang pancingan di tangannya. Kami bilang kapan kami akan pergi hanya kepadanya.
"Bisakah kita ngobrol sedikit?”
Aku mengguk pada permintaan Nishida, dan kami bertiga duduk saling bersebelahan di sebuah bangku di plaza. Nishida mulai berbicara perlahan sambil memandang ke atas pada lantai-lantai atas.
“Sebenarnya...hingga hari ini, cerita soal orang-orang yang bertarung untuk menyelesaikan permaninan di lantai-lantai atas terdengar seperti mereka dari dunia lain...Mungkin aku sudah menyerah untuk berpikir meninggalkan tempat ini.”
Aku dan Asuna mendengarnya tanpa suara.
“Kupikir kau sudah tahu ini, tapi Industri TI berkembang hampir tiap hari. AKu memulai karir ini sejak aku masih muda, jadi dulu aku masih bisa mengikuti mereka. Tapi kini aku sudah keluar dari lapangan itu selama dua tahun, dan aku tahu mungkin mustahil bagiku untuk mengejarnya kembali saat ini. Karena aku tak tahu entah aku bisa kembali ke pekerjaan lamaku atau tidak, atau apakah aku bakal diperlakukan sebagai halangan dan dibuang, kupikir lebih baik bagiku untuk memancing disini---" Dia berhenti berbicara dan membentuk senyuman pada wajah tuanya yang berkerut. Aku tak tahu apa yang harus kukatakakn. Sepertinya aku bahkan tak bisa membayangkan apa saja yang hilang darinya saat dia terpenjara dalam SAO.
“Aku juga---“
Asuna tiba-tiba mulai berbicara.
“Hingga setengah tahun lalu, aku juga memikirkan hal-hal seperti itu dan menangis sendirian tiap malam. Hari demi hari berlalu disini, dan semua: keluargaku, pergi ke kampus, dan semua yang berhubungan dengan dunia nyata terasa runtuh. Aku selalu bermimpi tentang dunia lain saat ku terlelap... Kupikir yang harus kulakukan hanyalah cepat-cepat menjadi kuat, dan menyelesaikan permainan ini lebih cepat, dan satu-satunya cara untuk itu adalah melatih keras keahlian senjatuku.
Aku memandangi Asuna, terkejut. Meski aku tak pernah memerhatikan orang lain sebelumnya...tapi aku tak pernah merasakan yang seperti ini sama sekali selama kami berhubungan. Yah, ini bukanlah pertama kalinya aku salah menebak kepribadian seseorang...
Asuna menyadari pandanganku dan tersenyum kecil sebelum melanjutkan.
“Tapi, suatu hari pada sekitar setengah tahun lalu, tepat setelah aku berteleport ke kota di garis depan, aku melihat seseorang tidur di rumput plaza. Dia terlihat seakan dia berlevel cukup tinggi, jadi aku marah dan berkata, ‘Jika kau punya waktu untuk dihabiskan disini, pergilah ke dalam dungeon dan clear lebih banyak...!”
Lalu dia menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa.
“Lalu orang itu secara tak terduga menjawab, ‘Ini musim terbaik di Aincrad dan latar cuacanya juga sangat bagus. Sayang sekali bila pergi kedalam dungeon pada hari seperti ini.’ Lau dia menunjuk ruang disebelahnya dan berkata, ‘Mengapa kau tak tidur juga?’ Dia sangat tak sopan.”
Asuna berhenti tersenyum; matanya menerawang, lalu dia melanjutkannya:
Tapi apa yang dikatakannya mengejutkanku, Aku menyadari bahwa ‘orang ini ternyata hidup dalam arti sebenarnya di dunia ini.’ Dia tak memikirkan kehilangan hari di dunia nyata dan malah memusatkan diri pada menjalani hari-hari dalam dunia ini. Aku menemukan bahwa ternyata ada orang-orang seperti uni, jadi aku mengirimkan anggota guild lainnya untuk pergi dan mencoba berbaring di sebelahnya... Karena anginnya terasa sangat enak....kehangatannya tepat untuk tubuh, aku terlelap. Aku tak bermimpi buruk saat itu. Kemungkinan karena ini pertama kalinya aku mendapatkan tidur yang nyenyak sejak masuk dunia ini. Saat kuterbangun, hari sudah siang, dan orang itu tengah memandangiku tak sabar. Orang itu adalah dia...”
Begitu dia selesai, Asuna menggenggam tanganku erat. Aku merasa sangat malu. Aku agak-agak ingat hal semacam itu, tapi....
“Maaf Asuna...Aku tak bermaksud yang macam-macam; Aku hanya ingin tidur siang saja....”
“Aku tahu itu bahkan jika kau tak mengatakannya!”
Asuna mencibir, lalu dia kembali menghadap Nishida dengan senyum di wajah sebelum melanjutkan :
“Sejak hari itu...Aku terlelap sambil memikirkannya, dan hasilnya, segala mimpi buruk menghilang. Aku menemukan dimana kota tempat tinggalnya dan akan meluangkan waktu untuk sesekali mengunjunginya...lalu aku mulai menunggu-nunggu datangnya esok...lalu aku menyadari aku tengah jatuh cinta, aku sangat bahagia dan bersumpah untuk menjaga rasa ini. Ini pertama kalinya aku berpikir datang ke dunia ini adalah hal yang luar biasa...”
Asuna menundukkan kepala, menggosok mata dnegan tangan bersarungnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
“Kirito adalah arti dibalik dua tahun hidupku disini. Dia juga bukti aku hidup dan alasan untuk terus mencari hari esok. Aku telah mengenakan NervGear dan datang ke dunia ini untuk menemuinya. Nishida oji-san...mungkin bukan tempatku untuk mengatakan ini, tapi kupikir anda telah meraih sesuatu dalam dunia ini. Tak diragukan lagi ini adalah dunia virtual, dimana yang kita lihat dans entuh adalah tiruan yang tercipta dari data. Tapi bagi kita, hati kita ada dalam realita ini. Jika itu nyata, maka segala sesuatu yang kita alami disini juga adalah nyata.”
Nishida terus memejamkan mata dan mengangguk beberapa kali. Matanya sembab dibelakang kacamatanya. Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk menahan airmataku.
Aku yang begitu, kupikir. Akulah yang terselamatkan saat aku tak dapat menemukan untuk hidup, entah saat aku di dunia nyata maupun setelah aku datang ke yang ini.
“...ya. Ya. kau benar...”
Nishida menerawangi langit lagi dan berkata.
“Apa yang kudengar disni juga adalah pengalaman tak ternilai. Pernah menangkap ikan lima meter juga salah-satunya...sepertinya hidupku disini tidak tak berarti, tidak tak berarti sama sekali.”
Nishida mengangguk sekali lalu bangkit.
“Ah, sepertinya aku telah memakan waktu kalian terlalu banyak. Aku sangat yakin orang-orang seperti kalian bertarung untuk membebaskan kami, sehingga kita semua bisa kembali ke dunia nyata dalam waktu dekat...Meski tiada yang bisa kulakukan untuk membantu, Aku setidaknya bisa menyemangati dan mendukung kalian terus.”
Nishida memegang tangan kami dan bersalaman.
“Kami akan kembali. Mohon temani kami saat itu tiba.”
Aku berjanji dengan kelingkingku, dan Nishida menganggukj dengan senyum besar dengan air mata mengaliri wajahnya.
Kami bersalaman erat dengan Nishida lalu berjalan menuju gerbang teleport. Begitu kamui memasuki bagian yang bersinar-sinar bagai ilusi, Aku dan Asuna saling menatap lalu membuka mulut kami secara bersamaan.
“Berpindah—Grandum!”
Cahaya biru mulai menyelimuti pandangan kami, menghapus gambar Nishida, yang terus melambai pada kami.

0 Response to "Sword Art Online Aincrad Chapter 20"

Poskan Komentar

Widget edited by super-bee
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme